BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Latar
belakang pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Komunitas 4 yang membahas tentang Biomonitoring Logam. Logam merupakan sebuah
unsur kimia yang siap membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam dan
kadangkala dikatakan mirip dengan kation di awan elektron. Ada dua kelompok
logam yaitu logam berat, dan logam ringan. Dikatakan logam berat karena massa
jenisnya 5 gr/cm3 atau lebih denagn nomor atom 22 sampai dengan 92.
Sedangkan logam ringan mempunyai massa jenis < 5 gr/cm3. Logam
berat dianggap berbahaya bagi kesehatan manusia bila terakumulasi secara
berlebihan di dalam tubuh. Beberapa diantaranya bersifat karsinogenik. Selama
beberapa tahun terakhir biomonitoring telah banyak digunakan sebagai pendekatan
untuk mengestimasi status pencemaran logam berat di berbagai lingkungan seperti
udara, tanah, sungai, dan laut. Biomonitoring merupakan teknik evaluasi
lingkungan berdasarkan analisis jaringan dan molekul organisme yang terpapar
logam berat. Di sisi lain, pendekatan ini dapat memberikan lebih banyak data
terkait dengan konsentrasi logam berat dan informasi terkait dengan status
pencemaran lingkungan. Untuk mengetahui apakah suatu spesies dapat digunakan
sebagai variabel biomonitoring, maka berbagai teknik/metode dapat digunakan
yaitu yang berhhubungan dengan biokumulasi, perubahan kimia, pengamatan
morfologi dan perilaku, serta pendekatan level populasi dan komunitas.
1.2
Tujuan
a.
Tujuan umum
Tujuan umum pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
biomonitoring logam
b.
Tujuan khusus
Tujuan khusus pembuatan makalah ini adalah untuk:
a)
Mengetahui definisi biomonitoring logam
b)
Mengetahui bioindikator pencemaran logam
1.3
Manfaat
Manfaat
pembuatan makalah ini adalah:
a)
Sebagai media pembelajaran
b)
Mengetahui lebih jauh tentang biomonitoring logam
BAB
II
Biomonitoring
Logam
2.1 Pengertian Biomonitoring
Biomonitoring
merupakan cara ilmiah untuk mengukur paparan manusia dengan alam maupun bahan
kimia berdasarkan sampling dan analisis terhadap jaringan individu dan cairan.
Bahan pemeriksaan berupa: darah, urin, air susu ibu (ASI), udara, rambut, kuku,
lemak, tulang, dan jaringan lain. Teknik ini berdasarkan ilmu bahwa zat kimia
yang memasuki tubuh manusia meninggalkan tanda yang menunjukkan paparan ini.
2.2 Manfaat
Biomonitoring
1. Biomonitoring
menyediakan informasi yang dapat digunakan dalam berbagai cara.
2. Data
ini mendeteksi zat mana yang terdapat di lingkungan dan kadarnya, bagaimana
kadar dapat berubah dan bagian mana pada populasi memiliki paparan tinggi
terhadap zat tertentu.
2.3 Macam-Macam Biomonitoring
1. Biomonitoring
Logam
Biomonitoring
logam dapat dilakukan dengan pemeriksaan suatu media untuk menentukan bahan
logam. Media yang dipakai antara darah/urine, jaringan tubuh, ikan, binatang
invertebrata, dan tanaman perairan.
2. Biomonitoring
Zat Organik
Akumulasi
zat organik pada beberapa spesies mamalia merupakan bio indikator yang
potensial untuk mendeteksi pencemaran lingkungan.
3. Biomonitoring
Limbah Cair
Ada beberapa
studi toksisitas yang dipakai untuk menilai buangan limbah cair antara lain
pemakaian bakteri dan pemakaian invertebrata. Limbah pabrik kertas yang
mengandung bahan kimia pemutih dilakukan studi memakai biota air misalnya ikan.
4. Biomonitoring
Pencemar Udara
Perubahan
ambien atmosfer oleh adanya bahan pencemar udara akan dapat mempengaruhi
kehidupan tanaman. Daun pinus jarum dapat dipakai sebagai indikator pencemaran
alifatik hidrokarbon. Dengan pemeriksaan gas kromatografi ditemukan bahwa kadar
hidrokarbon lebih tinggi pada daun pohon pinus yang berumur tua. Tanaman
tingkat rendah antara lain lichen parmalia sulcata dapat sebagai indikator
pencemaran udara. Dengan demikian maka lichen dapat dipakai sebagai biomonitor
untuk pencemar udara.
5. Biomonitoring
Asidifikasi
Perairan
yang mempunyai pH rendah akan bersifat asam. Keasaman perairan dapat dideteksi
dengan memakai biomarker biota yang hidup dalam perairan tersebut. Dalam
keadaan pH rendah (pH=3), maka logam besi dan manganese akan terdeteksi dalam
perairan. Efek perairan dengan pH rendah, logam yang toksis dan Dissolve
Organic Carbon (DOC) terhadap hewan amfibi akan menyebabkan terlambatnya
metamorfosa, menurunnya daya tahan dan menurunnya berat badan hewan amfibi
6. Biomonitoring
Kesehatan Manusia
Biomonitoring
Pb dan Cd pada wanita yang melahirkan, dilakukan dengan pemeriksaan ASI dan
darah. Karyawan industri petrokimia yang terpapar dengan PAH pada pemeriksaan
urine ditemukan biomarker hidroksipyrene.
2.4 Biomonitoring Logam
Selama beberapa dekade
terakhir ini, perhatian intensif diarahkan untuk mengatasi masalah kontaminasi
logam berat pada lingkungan (Kortba et al., 1999; Zhou, 2008). Sebagian
besar logam diketahui bersifat toksik atau racun dan sebagian diantaranya
dilepaskan ke lingkungan dalam jumlah yang dapat menimbulkan resiko pada
kesehatan manusia (El-said & Garamon, 2010).
Logam merupakan komponen
yang menyusun ekosistem, terdapat pada atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selain
merupakan komponen alami kulit bumi, sumber kontaminasi logam berat lainnya
adalah berasal dari aktivitas manusia (antropogenik) seperti areal pertanian,
industri dan perhubungan (Ayeni, 2010; Scoetgher, 1996; Miranda et al., 2004;
Amisah et al., 2009; Yi et al., 2007
2.5 Bioindikator Pencemaran Logam
1. Logam yang
dapat ditemukan pada darah/urine: Cadmium, Zat besi, Manganese, Tembaga,
Merkuri, Zink
2. Logam berat di atmosfer yang ditemukan pada
jaringan burung: partikel timbal, Cadmium, Arsen, Merkuri. Logam berat tersebut
berasal dari pabrik pengelasan logam dan secara tidak langsung burung memakan
serangga dengan yang terkontaminasi oleh logam berat. Tempat akumulasi logam
berat di dalam tubuh burung terletak pada jaringan dan bulu burung.
3. Logam berat
di perairan yang ditemukan pada ikan: Chromium, Tembaga, Timbal, Zink. Logam
tersebut akan meningkat kadarnya, apabila ada peningkatan BOD di perairan.
4. Logam berat
di perairan yang ditemukan pada binatang invertebrata: Chromium, Cadmium,
tembaga, timbal, cobalt, nikel. Adanya logam berat tersebut pada tubuh
invertebrata merupakan indikator tercemarnya lingkungan.
5. Tanaman
perairan dan tanaman darat dapat dipakai sebagai bio indikator lingkungan yang
terkontaminasi oleh logam berat. Pabrik pengecoran besi yang mengeluarkan bahan
pencemar udara logam berat dapat dideteksi pada tanaman dengan analisis Neutron
Activation Analysis
2.6 Faktor Risiko
Biomarker Pada Toksisitas Logam Berat
Toksisitas plumbum
(Pb) pada anak yang disebabkan oleh konsumsi timah diyakini memberikan dampak
pada lebih dari 2 juta anak usia prasekolah di Amerika. Prevalensi toksisitas
timbal atau plumbum cukup tinggi pada penduduk Amerika-Afrika yang memiliki
ekonomi menengah ke bawah. Paparan arsenik dapat terjadi di luar bidang
industri karena kegunaannya sebagai rodentisida dan dapat bersifat letal.
Penggunaan kadmium
dalam industri meningkat sejak ditemukannya pada tahun 1817 oleh Stromyer.
Bahan campuran yang mengandung kadmium digunakan secara luas dalam pembuatan
cat, plastik, gelas, logam campuran, dan alat listrik.
Pencemaran logam
berat cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya proses industrialiasasi
di Indonesia. Sejak zaman industrialisasi, merkuri menjadi bahan pencemar
penggalian. Salah satu penyebab pencemaran lingkungan oleh merkuri adalah
pembuangan tailing pengolahan emas yang diolah secara amalgamasi. Mereka
mencari emas menggunakan mesin sedot dengan demikian mengganggu hamparan kanal
dan alur sungai, serta meningkatkan jumlah tumpukan sedimen (pengendapan bahan
atau partikel yang terdapat di permukaan bumi). Pengolahan emas menggunakan
merkuri untuk memisahkan emas dalam proses amalgamasi.
Paparan logam berat
meliputi sumber daya alam seperti tanah dan bijih logam, proses industri,
produk komersial, obat tradisional, makanan yang terkontaminasi, dan produk
herbal. Logam berat bersifat toksik dan memapari tubuh kita melalui makanan,
air minum, dan udara. Logam menghasilkan toksik dengan membentuk kompleks
senyawa yang seluler yang mengandung sulfur, oksigen, dan nitrogen.
Kompleks tersebut
menonaktifkan sistem enzim atau memodifikasi struktur protein yang menyebabkan
gangguan fungsi sel. Sistem organ yang paling sering terkena dampaknya meliputi
gastrointestinal (GI), kardiovaskuler, hematopoietik, ginjal, dan sistem saraf
perifer. Sifat dan tingkat keparahan toksisitas berbeda tergantung pada jenis
logam yang terlibat, tingkat paparan, bahan kimia dan jenis ion (Anorganik atau
organik), cara paparan (Akut atau kronik), dan usia manusia tersebut.
Toksisitas logam berat relatif jarang terjadi. Kegagalan untuk mengenali dan
mengobati toksisitas logam berat dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas
yang signifikan. Ensefalopati merupakan penyebab utama kematian pada penderita
dengan toksisitas logam baik akut dan kronis
2.7 Gejala Klinis
Toksisitas Logam Berat
|
Jenis Logam
|
Akut
|
Kronik
|
Konsentrasi Toksik
|
|
Arsenikic
|
Mual, muntah,
diare, nyeri saraf
|
Diabetes,
hipopigmentasi/hiperkeratosis, kanker : paru-paru, kandung kemih, enselopati
|
24-h urin : ≥50
μg/L urin atau 100 μg/g kreatinin
|
|
Bismut
|
Gagal ginjal,
nekrosis tubular akut
|
Difusi mioklonik,
enselopati
|
Tidak ada standar
referensi yang jelas
|
|
Kadmium
|
Pneumonitis (asap
oksida)
|
Proteinurea, kanker
paru-paru, osteomalacia
|
Proteinuria
dan/atau ≥15 μg/ g kreatinin
|
|
Merkuri
|
Menghirup : demam,
muntah, diare
Garam anorganik
(konsumsi) : gastroenteritis kaustik
|
Mual, tremor,
neurasthenia, sindrom nefrotik, hipersensitivitas
|
Latar Belakang
paparan "normal" batas: 10 mg / L (whole blood), 20 mg / L (24-h
urin)
|
2.8 Penatalaksanaan toksisitas logam berat
Penatalaksanaan pada
penderita toksisitas logam berat difokuskan pada sistem organ saraf,
pencernaan, hematologi dan ginjal. Mual, muntah, diare dan nyeri perut
merupakan ciri khas dari inhalasi logam berat akut. Dehidrasi merupakan gejala
yang umum terjadi. Enselopati, kardiomiopati, disritmia, nekrosis tubular akut,
dan asidosis metabolik termasuk dalam gejala toksisitas akut pada kadar paparan
yang paling tinggi.
Toksisitas logam berat
kronis memiliki dampak langsung terhadap sistem saraf pusat (SSP) dan sistem
saraf perifer. Paparan logam berat kronis meliputi anemia, garis Mees (garis
hipopigmentasi horizontal di semua kuku), dan temuan neurologs halus. Gejala
ini memberikan kecurigaan toksisitas logam berat.
Penatalaksanaan awal pada
toksisitas arsenik yaitu dengan menjauhkan dari sumber paparan. Tindakan
resusitasi merupakan hal yang paling penting pada penderita dengan toksisitas
yang berat. Resusitasi merupakan perawatan suportif yang baik dan penting.
Pastikan patensi jalan napas dan berikan perlindungan, memberikan ventilasi
mekanik, disritmia yang tepat, menggantikan cairan dan elektrolit (apabila
kehilangan cairan yang signifikan dan memerlukan rehidrasi agresif), serta
memantau dan mengobati gejala dari disfungsi organ. Kelasi dengan dimercaprol
atau suksimer (2,3-asam dimercaptosuccinic, DMSA) mempertimbangkan pada
penderita dengan gejala peningkatan arsenik. Tindakan hemodialisis perlu
dipertimbangkan terhadap penderita yang mengalami gagal ginjal.
Menjauhkan penderita dari
sunber paparan toksik merupakan salah satu tindakan intervensi. Unsur merkuri
mempunyai paparan toksisistas yang minimal ketika dicerna dan memiliki paparan
yang kecil untuk dekontaminasi saluran pencernaan.
Penatalaksanaan kelasi
dengan memberikan molukel yang dapat mengikat ion logam membentuk kompleks
netral dan diekskresikan oleh ginjal. Tujuan terapi kelasi adalah untuk
mengurangi kadar logam berat dalam berat dalam tubuh. Beberapa unsur yang
tersedia, yang paling sering dikutip termasuk succimer, dimercaprol, dan D-penisilamin.
Terapi kelasi membutuhkan waktu beberapa bulan tergantung pada kandungan
merkuri dalm tubuh. Kegunaan terapi masih belum jelas dikarenakan kurangnya
penilitian yang menunjukkan manfaat jangka panjang pada penderita yang diobati
dengan terapi ini.
2.9 Pengendalian pencemaran logam berat
Secara teknis, upaya
pengendalian pencemaran logam berat dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
1. pengendalian
dengan menggunakan proses kimia
Dengan
proses kimia dilakukan dengan penambahan senyawa kimia tertentu untuk proses
pemisahan ion logam berat atau dengan resin penukar ion (exchange resins),
serta beberapa metode lainnya seperti penyerapan dengan menggunakan karbon
aktif, electrodialysis dan reverse osmosis.
2. penanganan
dengan menggunakan mikroorganisme atau mikroba
Penanganan
logam berat dengan mikroorganisme atau mikroba menjadi alternatif yang dapat
dilakukan untuk mengurangi tingkat keracunan elemen logam berat di lingkungan
perairan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Biomonitoring logam merupakan cara ilmiah untuk mengukur paparan logam terhadap manusia melalui bioindikator
darah/urine, jaringan tubuh, ikan,
binatang invertebrata, dan tanaman perairan. Sehingga dapat mengurangi dan mencegah dampak
paparan logam terhadap manusia.
DAFTAR PUSTAKA
- Des W. Connel &
Gregory J. Miller. 1995. Kimia dan
Ekotoksikologi Pencemaran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
- H.J. Mukono. 2002. Epidemiologi Lingkungan. Surabaya:
Airlangga University Press.
-
Rumahlatu Dominggus. 2012. Biomonitoring Sebagai Alat Asesmen Kualitas
Perairan Akibat Logam Berat Kadnium Pada Invertebrata Perairan.Saintis.volume 1. Ambon : Universitas Pattimura
No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar