BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Efek
berbahaya (toksik) yang ditimbulkan oleh zat racun (tokson) telah dikenal oleh
manusia sejak awal perkembangan peradaban manusia. Oleh manusia efek toksik
dimanfaatkan untuk membunuh ataupun bunuh diri. Untuk mencegah keracunan, orang
senantiasa berusaha menemukan dan mengmbangkan upaya pencegahan atau menawarkan
racun. Usaha ini seiring dengan toksikologi itu sendiri. Sumbangan yang lebih
penting bagi kemajuan toksikologi terjadi dalm abad ke-16 dan sesudahnya. Paracelcius adalah nama samaran dari Phillippus Aureollus Theophratus Bombast von
Hohenheim (1493-1541), toksikolog besar yang pertama kali meletakkan konsep
dasar dari toksikologi. Dalam postulatnya menyatakan “ Semua zat adalah racun,
dan tidak ada zat yang tidak beracun, hanya dosis yang membuatnya tidak beracun
“. Pernyataan ini menjadi dasar bagi konsep hubungan dosis reseptor dan indeks
terapi yang berkembang dikemudian hari. Nilai analisis kimia penting guna
membuktikan bahwa simtomalogi yang ada berkaitan dengan adanya zat kimia
tertentu dalam badan.
Toksikologi
dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya
(efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik
lainnya. Apabila zat kimia dikatakan beracun (toksik), maka kebanyakan diartikan
sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme
biologi tertentu pada suatu organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa
ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor “tempat kerja”, sifat zat
tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap
organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan. Sehingga apabila menggunakan
istilah toksik atau toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme
biologi dimana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat
relatif dari suatu zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya
atau penyimpangan mekanisme biologi pada suatu organisme.
Toksikologi
modern merupakan bidang yang didasari oleh multi disiplin ilmu, yang dapat
dengan bebas meminjam beberapa ilmu dasar, guna mempelajari interaksi tokson
dan mekanisme yang ditimbulkan. Toksikologi memiliki beberapa jenis antara
lain: toksikologi deskriptif, toksikologi mekanistik, toksikologi regulatif,
toksikologi forensik, toksikologi klinik, toksikologi kerja, toksikologi
lingkungan, dan ekotoksikologi. Makalah ini akan membahas salah satu jenis
toksikologi, yaitu toksikologi regulatif dimana toksikologi ini untuk
menentukan apakah suatu obat mempunyai resiko yang rendah untuk dipakai sebagai
tujuan terapi.
1.2
Tujuan
Tujuan
pembuatan makalah ini adalah:
a.
Tujuan umum
Tujuan
umum pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang toksikologi regulatif
b.
Tujuan khusus
Tujuan
khusus pembuatan makalah ini adalah:
a)
Untuk mengetahui pengertian toksikologi regulatif
b)
Untuk mengetahui mekanisme toksikologi regulatif
1.3
Manfaat
Manfaat
pembuatan makalah ini adalah:
a.
Sebagai media penambah ilmu pengetahuan
b.
Mengetahui lebih jauh tentang toksikologi regulatif
BAB II
Toksikologi Regulatif
2.1 Definisi Toksikologi
Toksikologi menurut
bidang farmakologi merupakan cabang farmakologi yang berhubungan dengan efek
samping zat kimia di dalam sistem biologi.
2.2 Jenis-jenis
toksikologi
1. Toksikologi Deskriptif
2. Toksikologi Mekanistik
3. Toksikologi Regulatif
4. Toksikologi Forensik
5. Toksikologi Klinik
6. Toksikologi Kerja
7. Toksikologi Lingkungan
8. Ekotoksikologi
2.3 Definisi
Toksikologi Regulatif
Menentukan apakah suatu obat mempunyai resiko yang
rendah untuk dipakai sebagai tujuan terapi
2.5 Tahapan Proses
Fase Kerja Toksik Obat
1. Fase eksposisi
Fase
eksposisi merupakan kontak suatu organisme dengan
xenobiotika, pada umumnya, kecuali radioaktif, hanya dapat terjadi efek toksik/
farmakologi setelah xenobiotika terabsorpsi. Umumnya hanya tokson yang berada
dalam bentuk terlarut, terdispersi molekular dapat terabsorpsi menuju sistem
sistemik. Dalam konstek pembahasan efek obat, fase ini umumnya dikenal dengan
fase farmaseutika. Fase farmaseutika meliputi hancurnya bentuk sediaan obat,
kemudian zat aktif melarut, terdispersi molekular di tempat kontaknya. Sehingga
zat aktif berada dalam keadaan siap terabsorpsi menuju sistem sistemik. Fase
ini sangat ditentukan oleh faktor-faktor farmseutika dari sediaan farmas
2. Fase toksikinetik
Fase
toksikinetik disebut juga dengan fasefarmakokinetik.
Setelah xenobiotika berada dalam ketersediaan farmasetika, pada mana keadaan
xenobiotika siap untuk diabsorpsi menuju aliran darah atau pembuluh limfe, maka
xenobiotika tersebut akan bersama aliran darah atau limfe didistribusikan ke
seluruh tubuh dan ke tempat kerja toksik (reseptor). Pada saat yang bersamaan
sebagian molekul xenobitika akan termetabolisme, atau tereksresi bersama urin
melalui ginjal, melalui empedu menuju saluran cerna, atau sistem eksresi
lainnya.
3. Fase toksodinamik
Fase
toksodinamik adalah interaksi antara tokson dengan
reseptor (tempat kerja toksik) dan juga proses-proses yang terkait dimana pada
akhirnya muncul efek toksik/farmakologik. Interaksi tokson-reseptor umumnya
merupakan interaksi yang bolak-balik (reversibel). Hal ini mengakibatkan
perubahan fungsional, yang lazim hilang, bila xenobiotika tereliminasi dari
tempat kerjanya (reseptor)
2.6 Pemeriksaan Toksik Obat
Penilaian komprehensif dapat
diperoleh melalui penyelidikan dalam bidang farmakokinetik, farmakodinamik, dan
toksikologi.
1.
Uji Farmakokinetik
Uji
farmakokinetik diperoleh melalui penelitian nasib obat dalam tubuh, yang
menyangkut absorpsi, distribusi, redistribusi, biotransformasi, dan ekskresi obat.
Pengetahuan mengenai hal ini penting untuk menafsirkan tidak saja efek terapi,
tetapi juga toksisitas suatu obat. Segala hal yang menyangkut farmakokinetik
ini memerlukan analisis kuantitatif dari zat dalam cairan biologik atau organ
tubuh.
2.
Uji Farmakodinamik
Sebelum
suatu obat dapat digunakan untuk indikasi tertentu, harus diketahui dahulu efek
apa yang terjadi terhadap semua organ dalam tubuh yang sehat. Skrining efek
farmakodinamik ini sangat diperlukan.
Jarang
terdapat suatu obat yang hanya memiliki satu jenis efek, hampir semua obat
mempunyai efek tambahan dan mampu mempengaruhi fungsi berbagai macam alat dan
faal tubuh. Efek yang menonjol, biasanya merupakan pegangan dalam menetukan
penggunaannya, sedangkan perubahan lain merupakan efek samping yang bahkan
dapat bersifat toksik. Seringkali sifat toksik suatu obat merupakan lanjutan
dari efek farmakodinamik atau efek terapinya.
3.
Uji toksikologi
Sebelum
percobaan toksikologi dilakukan sebaikanya telah ada data mengenai
identifikasi, sifat obat dan rencana penggunaannya. Data ini dapat dipakai
untuk mengarahkan percobaan toksisitas yang akan dilakukan. Hal ini memerlukan
penilaian dari seseorang yang
berpengalaman dalam bidang ini.
2.7 Menilai Keamanan Zat
Kimia
Penilaian keamanan suatu
obat atau zat kimia merupakan bagian penting dari toksikologi, karena setiap
zat kimia yang baru disintesis dan akan dipergunakan harus diuji toksisitas dan
keamanannya. Bila zat kimia itu merupakan zat tambahan makanan atau kontaminan
yang tanpa sengaja dapat masuk dalam makanan, misalnya peptisida atau berbagai
metal, maka penilaian keamanannya dilakukan melalui tahap-tahap yang baku.
Setiap zat kimia, bila
diberikan dengan dosis yang cukup besar akan menimbulkan gejala-gejala toksik.
Gejala-gejala ini pertama-tama harus ditentukan pada hewan coba melalui
penelitian toksisitas akut dan subkronik guna memperoleh kesan pertama tentang
kelainan yang dapat ditimbulkan. Hal ini diperlukan untuk meramalkan
kemungkinan yang dapat terjadi pada manusia dengan dosis yang lebih kecil. Selanjutnya,
perlu ditentukan suatu dosis yang terbesar, dinyatakan dalam mg/kgBB/hari, yang
tidak menimbulkan efek merugikan pada hewan coba, yang disebut No Effect Level (NEL) atau No observed Effect Level (NOEL). Hal ini dilakukan dengan mencobakan
berbagai tingkat dosis sampai ditemukan dosis yang tidak menimbulkan efek buruk
pada hewan coba. NEL didefinisikan sebagai “jumlah atau konsentrasi suatu zat
kimia yang ditemukan melalui penelitian atau observasi, yang tidak menimbulkan
kelainan buruk, perubahan morfologi atau fungsi organ, pertumbuhan,
perkembangan, maupun mengurangi lama hidup hewan coba.
Zat pengisi laktosa dalam
produk fenitoin dapat memperbesar dapat memperbesar ebiovailabilitas sehingga
meninggikan kadar fenitoin dalam darah. Hal ini dapat menimbulkan keracunan
karena batas keamanan fenitoin sempit. Di bawah kadar 10µg/ml fenitoin tidak
efektif sedangkan di atas 20µg/ml timbul reaksi toksik. Sedangkan penggunaan fenitoin
dalam dosis 0,3 gram sehari dapat memberikan kadar darah yang sangat bervariasi
yaitu 4-60 µg/ml.
Produk dekomposisi dari
tetrasikllin yang berwarna coklat mengandung epi-anhidrotetrasiklin yang dapat
merusak ginjal, dan karena itu tetrasiklin yang telah menjadi coklat tidak
boleh digunakan lagi.
Kerusakan jaringan tubuh
misalnya hati dan ginjal dapat mengganggu secara tidak langsung dan memudahkan
terjadinya toksisitas.
2.4 Jenis zat kimia dan
Perkiraan Dosis
|
Nama
Zat
|
Mekanisme
Keracunan
|
Perkiraan
Dosis Toksik
|
Tanda
dan Gejala
|
|
Antihistamin
|
Antihistamin H1-bloker berhubungan secara
struktur dengan histamin dengan mengantagonis efek histamin pada reseptor H1.
memiliki efek antikolinergik serta dapat menstimulus atau menekan sistem
saraf.
|
Dosis
fatal oral difenhidramin adalah 20-40 mg/kg.
Umumnya,
toksisitas terjadi setelah menelan 3-5 kali dosis lazim harian. Anak-anak
lebih sensitif terhadap efek toksik antihistamin dibandingkan dengan dewasa.
|
Depresi
SSP sampai koma. Kejang disusul dengan depresi pernapasan. Mulut kering,
takikardia.
|
|
Arsen
trioksida
|
Senyawa asam bersifat iritan pada kulit,
membran mukosa, saluran napas dan saluran cerna. Setelah diabsorpsi, senyawa
arsen mengganggu metabolisme selular dengan cara berikatan dengan gugus
sulfhidril berbagai enzim. Senyawa arsen juga diketahui bersifat
karsinogenik.
|
Akut
120 mg
|
Akut
Tenggorokan
tercekik dan sukar menelan. Kolik usus, dinding perut sakit, diare berdarah,
muntah, oliguria, kejang, koma, syok.
Kronik
Lemah,
mual. Gejala seperti koriza akut, stomatitis, salivasi, dermatitis,
arsenic melanosis, edema lokal pada
kelopak mata, dan pergelangan kaki. Keratosis palmaris dan plantaris,
hepatomegali, sirosis, kerusakan ginjal dan ensefalopati.
|
|
Asam
Borat
(Boraks)
|
Tidak diketahui mekanisme keracunan asam
borat secara pasti. Asam borat di distribusikan ke seluruh jaringan dan
kemungkinan berkerja sebagai racun selular umum. Sistem organ yang paling sering
terpengaruh adalah gastrointestinal, otak, hati dan ginjal.
|
Akut
1-3
g pada neonatus
5 g pada bayi
20
g pada dewasa
|
Muntah,
diare, suhu badan menurun, rasa lemah, sakit kepala, tidak tenang, rash erythemateous
|
|
Aspirin
(asam asetil salisilat)
|
Salsilita mengganggu metabolisme glukosa
dan asam lemak, juga menyebabkan terjadinya uncoupling fosforilasi oksidatif, sehingga ATP yang diproduksi
tidak efisien, akumulasi asam laktat dan melepaskan panas.
|
Akut
>
200mg/kgBB
Kronik
Banyak
terjadi pada usia lanjut yang secara teratur menggunakan aspirin misalnya
pada osteoartritis dan secara perlahan meningkatkan dosisnya atau dimana
terdapat insufisiensi ginjal.
|
Hiperventilasi,
keringat, muntah, delirium, kejang dan koma. Akhirnya depresi napas.
|
|
Insektisida
golongan organofosfat misalnya DDVP, diazinon, malation, dan paration
|
Organofosfat dan derivat sulfoksidasinya
(oxon) menghambat asetilkolin esterase, menyebabkan akumulasi asetilkolin
pada reseptor muskarinik, nikotinik dan di SSP
|
Setiap
dosis berbahaya
|
Keracunan
lewat oral, inhalasi dan kontak kulit. Muntah, diare, hipersalivasi,
bronkokonstriksi, keringat banyak, miosis, bradikardia, (kadang-kadang
takikardia), tensi menurun, kejang, atau paralisis. Depresi pernapasan.
|
|
Merkuri
|
Merkuri bereaksi dengan gugus sulfhidril,
berikatan dengan protein dan menginaktivasi enzim
|
Merkuri (logam):
Pada
suhu ruang berupa cairan dan sulit terabsorpsi, namum uap nya mudah
diabsorpsi lewat inhalasi, jika merkuri dipanaskan. Kadar di udara yang
disebut membahayakan adalah 28 mg/m³.
Garam merkuri anorganik:
Dosis
letal akut oral adalah 1 g
Merkuri
organik:
(merkurukrom,
timerosal). Konsumsi metilmerkuri dapat menyebabkan toksisitas neurologik.
Batas maksimum asupan makanan misalnya ikan yang terkontaminasi merkuri
adalah 0,03 mg
|
Inhalasi akut uap merkuri
(logam):
Pneumonitis,
edema paru nonkardiogenik
Keracunan oral akut garam
merkuri anorganik:
Muntah,diare
(sering berdarah), syok. Gagal ginjal terjadi dalam 24 jam. Dapat juga
terjadi hepatitis.
Keracunan kronik merkuri
organik:
Iritabilitas,
kehilangan ingatan, depresi, insomnia, tremor. Gejala lain yang juga sering
adalah gingivitis, stomatitis dan salivasi.
|
|
Golongan
organoklorin misalnya DDT, Endrin
|
Mengganggu transpor Na dan K melalui
membran aksonal
|
DDT
15-30 g
Endrin
1,5 g
|
Kejang,
tremor, koma. Kemudian dapat timbul paralisis
|
|
Warfarin
atau derivat dikumarol (racun tikus)
|
Intoksikasi warfarin dapat terjadi karena
terapi jangka panjang atau dari penambahan obat yang berinteraksi dengan
warfarin (contoh: alopurinol, simetidin, AINS, kuinidin, salsilat, atau
sulfonamid). Jika terjadi antikoagulasi berat dapat berakibat fatal.
|
Dosis
berbahaya 1-2 mg/kgBB untuk 6 hari
|
Perdarahan
kulit dan mukosa
|
No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar