Makalah Keperawatan

Thursday, 16 January 2014

MAKALAH GANGGUAN SISTEM RESPIRATORY INFEKSI JALAN NAFAS ATAS



BAB 1
PENDAHULUAN

  A.   Latar belakang
saluran pernapasan adalah saluran yang mengangkut udara antara atmosfer dan alveolus. berawal dari saluran hidung (nasal) --> faring (yang merupakan saluran bersama bagi sistem pernapasan dan pencernaan) --> yang kemudian bercabang dua satu ke trakea (wide pipe) yang merupakan tempat lewatntya udara ke paru dan satu lagi ke arah esofagus yang merupakan tempat lewatnta makanan ke lambung.
Gangguan pada pernapasan dapat disebabkan oleh adanya gangguan atau kelainan pada organ penyusun sistem pernapasan. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor keturunan, kebiasaan merokok, penggunaan obat terlarang, oleh virus atau pun bakteri.
Kebiasaan merokok sangat bepotensi besar dalam merusak paru-paru.
Apabila jalan nafas terganggu akan mengakibatkan penyakit yang menggangu ketidak efektifan jalan nafas.Penyakit ini juga bisa mengakibatkan komplikasi.gangguan sluran pernafasan ini terjadi di segala usia.

   B.     Tujuan umum

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu membantu mahasisawa, agar dapat lebih memahami tentang konsep dasar ganguan sistem Respiratory infeksi jalan nafas atas..


C.     Tujuan khusus

1.      Untuk mengetahui penyakit yg di derita dalam kasus
2.      Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit- penyakit tersebut
3.      Untuk mengetahui adanya komplikasi yang dapat muncul pada penyakit-penyakit tersebut
4.      Untuk mengetahui bagaimana terapi pengobatan yang dapat di berikan terhadap penyakit-penyaki tersebut


D.     MANFAAT

Adapun manfaatnya yaitu dengan kita mengerjakan tugas kasus ini kita bias mengetahui tentang penyakit-penyakit yang di derita oleh pasien-pasien tersebut.






















BAB II
ISI

KASUS 1
Seorang  anak laki-laki usia 6thn datang ke poli anak dngn  keluhan hidung tersumbat , demam dan sakit kepala, serta nyeri otot sejak 2 hari yg lalu. Anak tersebut tampak lemah dan lelah (malaise).
·         Penyakiy yg diderita nya adalah Selesma

Selesma (common cold) sering disebut sebagai “self-limiting desease” karena sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.
·         Phatofisiology
Selesma disebabkan oleh bermacam-macam virus (diketahui lebih dari 100 virus sepertirhinovirusadenovirusrespiratory syncytial virus (RSV), coronavirus, dan lain-lain) sedangkan flu disebabkan oleh virus influenza, biasanya tipe A. Ukuran partikelnya sendiri sangat kecil dengan diameter hanya < 10 um, akan sangat mudah untuk menginfeksi. Setelah menginfeksi sel di saluran nafas, virus akan berkembangbiak dan menginfeksi sel-sel yang berdekatan, masa inkubasinya berkisar antara 18–72 jam.
Beberapa penyakit dapat diawali dengan gejala yang mirip dengan gejala flu sepertipneumonia, bronkitis, pertusis, dan lain sebagainya padahal penyebabnya berbeda dan penatalaksanaannya juga berbeda. Setiap orang pasti pernah menderita selesma atau flu, di Amerika setiap tahun setidaknya 3-4 kali seseorang akan mengalaminya.
·         Gejala
Gejala-gejala selesma dan flu di antaranya adalah :

    * demam (suhu tubuh 38-41 ÂșC)
    * sakit tenggorokan
    * sakit kepala
    * batuk
    * hidung berair
    * hidung tersumbat
    * lemas
    * nafsu makan berkurang, dll.

Jika selesma atau flu tidak terjadi komplikasi, penyakit akan sembuh dalam 2-5 hari, paling lama sekitar seminggu. Namun, jika tidak diatasi dengan baik, kedua penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi dan jika terjadi komplikasi, sebaiknya segera mencari pertolongan paramedis untuk mendapatkan penatalaksnaan selanjutnya. Komplikasi biasanya sering terjadi pada bayi dan anak-anak serta lansia.

·         Komplikasi Selesma
Sekitar 80% penderita seesma sampai tigkatan tertentu mengalami sinusitis, yang merupakan infeksi pada sinus.bronkitis sekunder juga dapat berkembang manyertai selesma, dan 60-70% penderita selesma sampai tingkatan tertentu bermaalah dengan saluran pernapasan bawah. 

·         Cara Penularan
Cara penularan selesma dan flu adalah adalah melalui virus yang disebarkan oleh penderita saat batuk, bersin, dan buang ingus. Virusnya dapat langsung memasuki saluran nafas karena terbawa angin dan terhirup tetapi dapat juga melalui kontak tangan dengan benda yang mengandung virus kemudian tangan yang sama memegang hidung atau mata sehingga virusnya dapat memasuki saluran pernafasan dan berkembangbiak di sana dan akhirnya menimbulkan gejala flu.

·         Pencegahan
Untuk mencegah tertular dari penyakit selesma dan flu, sebaiknya menjaga daya tahan tubuh dan menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan air mengalir dan dengan menggunakan sabun, terutama saat berada di tempat-tempat umum. Hal ini disebabkan karena tangan merupakan media yang dapat memindahkan virus ke saluran nafas. Untuk penderita sebaiknya menutup mulut dengan saputangan atau tisu setiap batuk ataupun bersin dan membuang sampah pada tempatnya. Cara pencegahan yang saat ini juga sudah banyak adalah dengan melakukan vaksin untuk flu.

·         Pengobatan
Sama seperti penatalaksanaan penyakit yang lain, pada prinsipnya pengobatan selesma dan flu dapat dilakukan melalui dua hal, yaitu:

1. Non-medikamentosa yaitu dengan pemberian makanan dan minuman yang bergizi. Bila perlu, konsumsi supplemen vitamin untuk memenuhi kebutuhan tubuh, serta istirahat yang cukup. Minum cairan yang cukup seperti air putih, sari buah, atau minuman hangat lainnya dapat membantu mempermudah pengeluaran lendir di saluran nafas.
2. Medikamentosa yaitu pemberian obat-obatan simptomatik (mengatasi sesuai gejala yang timbul). Jika demam, berikan antipiretik (penurun demam). Jika sakit kepala, berikan analgetik (mengurangi rasa sakit). Jika batuk, berikan antitusif atau ekspektoran dan berbagai jenis obat simptomatik lainnya. Jika sudah terjadi infeksi sekunder, segera hubungi dokter. Karena penyebabnya adalah virus, pemberian antibiotika tidak memberikan pengaruh yang lebih baik pada penyembuhan flu seperti mempercepat penyembuhan atau untuk mencegah komplikasi. Demikian juga pemberian antivirus tidak seperti pada penyakit akibat virus lainnya. Pada flu pemberian anti virus hanya bermanfaat jika pemberiannya dilakukan sedini mungkin sehingga pemberian antivirus pada flu tidak dianjurkan.


















Kasus 2
Seorang laki-laki usia 20 thn dtng ke poli penyakit dlm dengan keluha hidung tersumbat , nyeri sekitar hidung atau wajah , sakit kepala terutama pada pagi hari selanjutnya oleh dokter yg  memeriksa di rujuk ke poli THT.
·         Penyakit yang diderita  adalah sinusitis
 Definisi
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal, bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis.
Sesuai dengan anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis ethmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid.
Paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis ethmoid, sedangkan sinusitis frontal dan sinisitis sfenoid lebih jarang. Pada anak hanya sinus maksila dan sinus ethmoid yang berkembang, sedangkan sinus frontal dan sinus sfenoid belum(7).
 Anatomi Sinus
Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung
sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing.
Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.
Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk.
Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid.
Fungsi sinus paranasal adalah :
- Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan. Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan tulang akan terdesak.
- Sebagai pengatur udara (air conditioning).
- Peringan cranium.
- Resonansi suara.
- Membantu produksi mukus.
A. Sinus Maksilaris
- Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I.
- Bentuknya piramid, dasar piramid pada dinding lateral hidung, sedang apexnya pada pars zygomaticus maxillae.
- Merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada orang dewasa.
- Berhubungan dengan :
a. Cavum orbita, dibatasi oleh dinding tipis (berisi n. infra orbitalis) sehingga jika dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata.
b. Gigi, dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Mo1ar.
c. Ductus nasolakrimalis, terdapat di dinding cavum nasi.
B. Sinus Ethmoidalis
- Terbentuk pada usia fetus bulan IV.
- Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15 cellulae, dindingnya tipis.
- Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan mata
- Berhubungan dengan :
a. Fossa cranii anterior yang dibatasi oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa. Jika terjadi infeksi pada daerah sinus mudah menjalar ke daerah cranial (meningitis, encefalitis dsb).
b. Orbita, dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea. Jika melakukan operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah orbita sehingga terjadi Brill Hematoma.
c. Nervus Optikus.
d. Nervus, arteri dan vena ethmoidalis anterior dan pasterior.
C. Sinus Frontalis
- Sinus ini dapat terbentuk atau tidak.
- Tidak simetri kanan dan kiri, terletak di os frontalis.
- Volume pada orang dewasa ± 7cc.
- Bermuara ke infundibulum (meatus nasi media).
- Berhubungan dengan :
a. Fossa cranii anterior, dibatasi oleh tulang compacta.
b. Orbita, dibatasi oleh tulang compacta.
c. Dibatasi oleh Periosteum, kulit, tulang diploic.
D. Sinus Sfenoidalis
- Terbentuk pada fetus usia bulan III.
- Terletak pada corpus, alas dan Processus os sfenoidalis.
- Volume pada orang dewasa ± 7 cc.
- Berhubungan dengan :
a. Sinus cavernosus pada dasar cavum cranii.
b. Glandula pituitari, chiasma n.opticum.
c. Tranctus olfactorius.
d. Arteri basillaris brain stem (batang otak)
 Patogenesa
Bila terjadi edema di kompleks ostiomeatal, mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lender tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drenase dan ventilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen
Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi manifestasi klinik dari penyakit sinusitis.Polipoid berasal dari edema mukosa, dimana stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, dimana mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terjadilah polip.
Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah ini, yang menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan :
1. Jaringan submukosa di infiltrasi oleh serum. Sedangkan permukaannya kering. Leukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa.
2. Kapiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan epitel.
3. Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar melalui epitel yang melapisi mukosa. Kemudian bercampur dengan bakteri, debris, epitel dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan kapiler terjadi dan darah bercampur dengan sekret. Sekret yang mula-mula encer dan sedikit, kemudian menjadi kental dan banyak, karena terjadi koagulasi fibrin dan serum.
4. Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan berhentinya pengeluaran leukosit memakan waktu 10 – 14 hari.
5. Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Resolusi masih mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan jaringan belum menetap, kecuali proses segera berhenti. Perubahan jaringan akan menjadi permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang di bawahnya dapat memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang.
Perluasan infeksi dari sinus kebagian lain dapat terjadi : (1) Melalui suatu tromboflebitis dari vena yang perforasi ; (2) Perluasan langsung melalui bagian dinding sinus yang ulserasi atau nekrotik ; (3) Dengan terjadinya defek; dan (4) Melalui jalur vaskuler dalam bentuk bakterimia. Masih dipertanyakan apakah infeksi dapat disebarkan dari sinus secara limfatik.
Pada sinusitus kronik perubahan permukaan mirip dengan peradangan akut supuratif yang mengenai mukosa dan jaringan tulang lainnya. Bentuk permukaan mukosa dapat granular, berjonjot-jonjot, penonjolan seperti jamur, penebalan seperti bantal dan lain-lain. Pada kasus lama terdapat penebalan hiperplastik. Mukosa dapat rusak pada beberapa tempat akibat ulserasi, sehingga tampak tulang yang licin dan telanjang, atau dapat menjadi lunak atau kasar akibat karies. Pada beberapa kasus didapati nekrosis dan sekuestrasi tulang, atau mungkin ini telah diabsorpsi.
Pemeriksaan mikroskopik pada bagian mukosa kadang-kadang memperlihatkan hilangnya epitel dan kelenjar yang digantikan oleh jaringan ikat. Ulserasi pada mukosa sering dikelilingi oleh jaringan granulasi, terutama jika ada nekrosis tulang. Jaringan granulasi dapat meluas ke periosteum, sehingga mempersatukan tulang dengan mukosa. Jika hal ini terjadi, bagian superfisial tulang diabsorpsi sehingga menjadi kasar. Osteofit atau kepingan atau lempengan tulang yang terjadi akibat eksudasi plastik, kadang-kadang terbentuk di permukaan tulang(4).
 Etiologi
1. Sebab-sebab lokal
Sebab lokal sinusitis supurativa :
- Patologi septum nasi seperti deviasi septum.
- Hipertrofi konka media.
- Benda asing di hidung seperti tampon, rinolith, material yang terinfeksi seperti air terinfeksi yang berkontak selama berenang atau menyelam.
- Polip nasi.
- Tumor di dalam rongga hidung.
- Rinitis alergi dan rinitis kronik.
- Polusi lingkungan, udara dingin dan kering.
2. Faktor-faktor predisposisi regional.
Faktor regional yang paling lazim untuk berkembangnya sinusitus ialah:
- Khususnya sinisitus maksilaris meliputi gigi geligi yang buruk, karies gigi atau abses apikal. Gigi-gigi premolar atau molar yang sering terkena karena gigi geligi tersebut didekat dasar sinus maksilaris.
- Sinusitus rekuren dapat disebabkan oleh obstruksi nasofaring seperti tumor ganas, radiasi kobalt disertai radionekrosis atau hipertrofi adenoid juga tumor-tumor palatinum jika ada perluasan regional.
3. Faktor-faktor sistemik.
Faktor-faktor sistemik yang mempredisposisi perkembangan rinosinusitis ialah :
- Keadaan umum yang lemah, seperti malnutrisi.
- Diabetes yang tidak terkontrol.
- Terapi steroid jangka lama.
- Diskrasia darah.
- Kemoterapi dan keadaan depresi metabolisme(8).
 Klasifikasi
Menurut Cauwenberg berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi atas :
- Sinusitis akut, bila infeksi berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu.
- Sinusitis subakut, bila infeksi berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan.
- Sinusitis kronik, bila infeksi berlangsung lebih dari 3 bulan.
Berdasarkan gejalanya disebut akut bila terdapat tanda-tanda radang akut, subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversibel, dan kronik bila perubahan tersebut sudah irreversibel, misalnya menjadi jaringan granulasi atau polipoid(3).
 Gejala dan Diagnosis
Sinusitis Akut
A. Gejala Subyektif
Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari.
Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain(3)
1. Sinusitis Maksilaris
Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat(7)
Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga(3)
Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Batuk iritatif non produktif seringkali ada(8)
2. Sinusitis Ethmoidalis
Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea) seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita.
Pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dielakkan.
Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis ,post nasal drip dan sumbatan hidung
3. Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus etmoidalis anterior.
Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam.
Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita.


4. Sinusitis Sfenoidalis
Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola mata dan di daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis, sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya(7)
B. Gejala Obyektif
Jika sinus yang berbatasan dengan kulit (frontal, maksila dan ethmoid anterior) terkena secara akut dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit yang ringan akibat periostitis. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti ada penebalan ringan atau seperti meraba beludru.
Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis ethmoid jarang timbul pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip,tumor maupun komplikasi sinusitis.Jika ditemukan maka kita harus melakukan penatalaksanaan yang sesuai.
Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit dan provokasi test yakni suction dimasukkan pada hidung, pemeriksa memencet hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut dengan rapat, jika positif sinusitis maksilaris maka akan keluar pus dari hidung.
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang normal.
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.
Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti pneumococcus, streptococcus, staphylococcus dan haemophylus influensa. Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur(7).
C. Terapi
Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik empirik (2x24 jam). Antibiotik yang diberikan lini I yakni golongan penisilin atau cotrimoxazol dan terapi tambahan yakni obat dekongestan oral + topikal, mukolitik untuk memperlancar drenase dan analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri. Pada pasien atopi, diberikan antihistamin atau kortikosteroid topikal. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik diteruskan sampai mencukupi 10-14 hari. Jika tidak ada perbaikan maka diberikan terapi antibiotik lini II selama 7 hari yakni amoksisilin klavulanat/ampisilin sulbaktam, cephalosporin generasi II, makrolid dan terapi tambahan. Jika ada perbaikan antibiotic diteruskan sampai mencukupi 10-14 hari.
Jika tidak ada perbaikan maka dilakukan rontgen-polos atau CT Scan dan atau naso-endoskopi.Bila dari pemeriksaan tersebut ditemukan kelainan maka dilakukan terapi sinusitis kronik. Tidak ada kelainan maka dilakukan evaluasi diagnosis yakni evaluasi komprehensif alergi dan kultur dari fungsi sinus.
Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau bila ada nyeri yang hebat karena ada sekret tertahan oleh sumbatan.
Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda (7).
Pada rinoskopi anterior tampak sekret di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit, suram atau gelap.
Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.
Obat-obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas atau yang sesuai dengan resistensi kuman selama 10 – 14 hari. Juga diberikan obat-obat simptomatis berupa dekongestan. Selain itu dapat pula diberikan analgetika, anti histamin dan mukolitik.
Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra Short Wave Diathermy) sebanyak 5 – 6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus.
Pada sinusitis maksilaris dapat dilakukan pungsi irigasi. Pada sinusitis ethmoid, frontal atau sphenoid yang letak muaranya dibawah, dapat dilakukan tindakan pencucian sinus cara Proetz.


Sinusitis Kronis
Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik, sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.
A. Gejala Subjektif
Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :
- Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat.
- Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
- Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba eustachius.
- Ada nyeri atau sakit kepala.
- Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
- Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau bronkhiektasis atau asma bronkhial.
- Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.
B. Gejala Objektif
Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental, purulen dari meatus medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan polip, tumor atau komplikasi sinusitis. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.
Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. Etmoiditis kronis ini dapat menyertai poliposis hidung kronis.


C. Pemeriksaan Mikrobiologi
Merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba, seperti kuman aerob S. aureus, S. viridans, H. influenzae dan kuman anaerob Pepto streptococcus dan fuso bakterium.
D. Diagnosis Sinusitis Kronis
Diagnosis sinusitis kronis dapat ditegakkan dengan :
1. Anamnesis yang cermat
2. Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior
3. Pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, yakni pada daerah sinus yang terinfeksi terlihat suram atau gelap.
4. Pemeriksaan radiologik, posisi rutin yang dipakai adalah posisi Waters, PA dan Lateral. Posisi Waters, maksud posisi Waters adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid.
5. Pungsi sinus maksilaris
6. Sinoskopi sinus maksilaris, dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan dalam sinus, apakah ada sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista dan bagaimana keadaan mukosa dan apakah osteumnya terbuka. Pada sinusitis kronis akibat perlengketan akan menyebabkan osteum tertutup sehingga drenase menjadi terganggu.
7. Pemeriksaan histopatologi dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinoskopi.
8. Pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan naso- endoskopi.
9. Pemeriksaan CT –Scan, merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak : penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik).
Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan :
a. Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya dengan polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat menyebabkan gambaran air-fluid level.
b. Polip yang mengisi ruang sinus
c. Polip antrokoanal
d. Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
e. Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.
f. Tumor
E. Terapi
Terapi untuk sinusitis kronis :
a. Jika ditemukan faktor predisposisinya, maka dilakukan tata laksana yang sesuai dan diberi terapi tambahan. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik mencukupi 10-14 hari.
b. Jika faktor predisposisi tidak ditemukan maka terapi sesuai pada episode akut lini II + terapi tambahan. Sambil menunggu ada atau tidaknya perbaikan, diberikan antibiotik alternative 7 hari atau buat kultur. Jika ada perbaikan teruskan antibiotik mencukupi 10-14 hari, jika tidak ada perbaikan evaluasi kembali dengan pemeriksaan naso-endoskopi, sinuskopi (jika irigasi 5 x tidak membaik). Jika ada obstruksi kompleks osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah yaitu BSEF atau bedah konvensional. Jika tidak ada obstruksi maka evaluasi diagnosis.
c. Diatermi gelombang pendek di daerah sinus yang sakit.
d. Pada sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedang sinusitis ethmoid, frontal atau sfenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz.
e. Pembedahan
a. Radikal
- Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc.
- Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
- Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian.
b. Non Radikal
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan membuka dan membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.

Komplikasi Sinusitis
CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan kranium. Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau berkomplikasi.

1. Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita.
Terdapat lima tahapan :
a. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini.
b. Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
c. Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
d. Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin bertambah.
e. Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik.
Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
- Oftalmoplegia.
- Kemosis konjungtiva.
- Gangguan penglihatan yang berat.
- Kelemahan pasien.
- Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.
2. Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.
3. Komplikasi Intra Kranial
a. Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
b. Abses dura, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial.
Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.
c. Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.
Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.
4. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.









Kasus 3
Seorang  wanita  usia 35 thn datang ke poli penyakit  dalam. Pada anamesa di dapatkan data sering mengeluh hidung tersumbat , gatal-gatal pda hidung dan bersin-bersin dan kadang-kadang keluar cairan dari hidung . kondisi ini sering berulang terutama ketika berada pada lingkungan yg berdebu dan berasab.
·         Penyakit yang diderita adalah Rhinitis Elergi
Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung dan sinus yang disebabkan alergi terhadap partikel, seperti debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara. Meskipun bukan penyakit berbahaya yang mematikan, rinitis alergi harus dianggap penyakit yang serius karena karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tak hanya aktivitas sehari-hari yang menjadi terganggu, biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya pun akan semakin mahal apabila penyakit ini tidak segera diatasi karena telah menjadi kronis.
·         Tanda dan gejala
Ada dua penyebab
  1. Rinitis alergi  musiman (Hay Fever) umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.
  2. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, debu perabot rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat.
Gejala
  1. Bersin berulang-ulang sering kali pagi dan malam hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).
  2. Hidung mengeluarkan secret cair seperti air(runny nose). Itu sebabnya penderita tidak bisa terlepas dari tisue atau sapu tangan.
  3. Terasa cairan menetes ke belakang hidung(post nasal drip) karena hidung tersumbat.

  1. Pada keadaan lanjut dapat menyebabkan gejala hidung tersumbat serta batuk parah.
  2. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
  3. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.


·         Pathofisiologinya
Rinitis alergi (RA) secara klinik didefinisikan sebagai suatu gejala kelainan hidung karena proses inflamasi yang diperantarai IgE akibat paparan allergen pada mukosa hidung. Gejalanya dapat berupa bersin, rinore, obstruksi nasi dan gatal pada hidung yang mana akan sembuh secara spontan atau secara pengobatan. Penyakit rhinitis alergi tidak fatal tetapi pada kasus yang berat dapat menganggu prestasi belajar atau sekolah dan dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Selain itu jika tidak mendapat pengobatan dapat terjadi komplikasi ke organ sekitarnya.
·          Therapi pengobatan
Pengobatan
Rinitis alergi tak bisa disembuhkan secara total sehingga tujuan pengobatan adalah untuk menguragi gejala dan mencegah komplikasi. Pengobatan yang utama adalah menghindari atau meminimalkan kontak dengan allergen. Misalnya menghindari penyebab terjadinya reaksi rinitis alergi. Contohnya enjaga kebersihan rumah dan menghindari memakai alat atau bahan yang mudah menyimpan debu misalnya karpet. Bila diperkirakan alergi dengan bulu atau protein hewan, menghindari memelihara hewan tersebut. Dapat juga menggunakan filter debu udara di rumah.

Untuk menghindari pembengkakan pada hidung, biasanya dokter memberikan terapi medikamentosa baik yang diminum atau dalam bentuk spray hidung untuk mengurangi pembengkakan selaput lender hidung.
Pengobatan lainnya adalah imunoterapi yaitu memberi allergen dalam jumlah kecil bertahap dengan harapan tubuh menjadi kurang sensitive sehingga reaksi yang terjadi berkurang. Pengobatan ini ditujukan bila penderita tidak responsive dengan pengobatan medikamentosa, atau mengalami komplikasi misalnya radang sinus dan telinga yang sering kambuh. Atau penderita menolak minum oabt-obatan dalam jangka waktu lama.
Penatalaksanaan rinitis alergi dengan tujuan untuk mengontrol gejala semaksimal mungkin dengan seminimal mungkin efek samping yang menganggu. Berbagai modalitas terapi dapat digunakan, mulai dengan menghindari allergen (allergen avoidance), Terapi medikamentosa, imunoterapi sampai pembedahan, dan masing-masing dapat dipilih sesuai kepentingan penderita




Kasus 4
Seorang perempuan mahasiswa Keperawatan usia 22 tahun dating ke poli penyakit dalam dengan keluhan sakit tenggorokan, sulit menelan, dan merasa banyak lender ditenggorokan.Ketika dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan mukosa tenggorokan sangat merah.
·          Penyakit yang diderita adalah Faringitis ( Radang tenggorokan)
·          Tanda dan gejala nya
  1. Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan demam .
  2. Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.
  3. Virus coxsackie (hand, foot, and mouth disease).
  4. Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap).
  5. Bakteri streptokokus, dipastikan dengan Kultur tenggorok. Tes ini umumnya dilakukan di laboratorium menggunakan hasil usap tenggorok pasien. Dapat ditemukan gejala klasik dari kuman streptokokus seperti nyeri hebat saat menelan, terlihat bintik-bintik putih, muntah – muntah, bernanah pada kelenjar amandelnya, disertai pembesaran kelenjar amandel.
  6. Merokok.
Kebanyakan radang tenggorokan disebabkan oleh dua jenis infeksi yaitu virus dan bakteri. Sekitar 80% radang tenggorokan disebabkan oleh virus dan hanya sekitar 10-20% yang disebabkan bakteri. Untuk dapat mengatasinya, penting untuk mengetahui infeksi yang dialami disebabkan oleh virus atau bakteri streptokokus.
Infeksi virus biasanya merupakan penyebab selesma (pilek) dan influenza yang kemudian mengakibatkan terjadinya radang tenggorokan. Selesma biasanya sembuh sendiri sekitar 1 minnu begitu tubuh Anda membentuk antibodi melawan virus tersebut.
Pengobatan dengan antibiotik tidak akan efektif untuk mengobati infeksi virus. Sebaliknya, pemberian antibiotik dapat menimbulkan resistensi atau kekebalan kuman terhadap antibiotik. Saat kuman telah kebal terhadap antibiotik tersebut, bila antibiotik kita gunakan, akan tidak ampuh lagi dalam membunuh kuman. Akibatnya, penyakit yang diderita tidak akan sembuh.
Kenali gejala umum radang tenggorokan akibat infeksi virus sebagai berikut:
  1. rasa pedih atau gatal dan kering.
  2. batuk dan bersin.
  3. sedikit demam atau tanpa demam.
  4. suara serak atau parau.
  5. hidung meler dan adanya cairan di belakang hidung.
Infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus, tetapi dampaknya bisa lebih serius. Umumnya, radang tenggorokan diakibatkan oleh bakteri jenis streptokokus sehingga disebut radang streptokokus. Seringkali seseorang menderita infeksi streptokokus karena tertular orang lain yang telah menderita radang 2-7 hari sebelumnya. Radang ini ditularkan melalui sekresi hidung atau tenggorokan.
Kenali gejala umum radang streptokokus berikut:
  1. tonsil dan kelenjar leher membengkak
  2. bagian belakang tenggorokan berwarana merah cerah dengan bercak-bercak putih.
  3. demam seringkali lebih tinggi dari 38 derajat celsius dan sering disertai rasa menggigil
  4. sakit waktu menelan.

·         Phatofisiologinya
Penyebab radang atau sore throat bermacam-macam. Bisa karena infeksi virus, infeksi bakteri, hingga alergi dan iritasi. Seluruhnya dapat ditularkan melalui ludah, yang keluar saat batuk, atau yang terdapat pada tangan atau barang pribadi penderita infeksi.

"Rata-rata masa inkubasi radang tenggorokan dua hingga lima hari. Namun, apabila disebabkan virus, masa inkubasinya berkisar tiga hari hingga dua minggu," ujarnya.
Infeksi yang disebabkan virus influenza bersifat menular dan sangat mudah tersebar. Pada kondisi ini, peradangan berlangsung sekitar tiga sampai sepuluh hari.

Umumnya peradangan terasa lebih berat pada pagi hari dan akan membaik seiring berjalannya hari. Gejala lainnya biasanya berbentuk rasa lemas, menurunnya nafsu makan, demam, dan batuk. Sakit tenggorokan juga ditemukan pada infeksi virus lainnya seperti bisul dan campak. Tubuh memerlukan satu minggu untuk membangun antibodi guna menghancurkan virus-virus tersebut.

·         Kemungkinan komplikasi yang muncul
Penyakit difteri adalah salah satu komplikasi radang tenggorokan yang cukup membahayakan. Bila hal ini terjadi, diperlukan tindakan serius. Bakteri difteri dapat menyumbat jalannya napas, bahkan infeksi oleh bakteri ini bisa menyebar hingga ke jantung. 
Untuk bakteri, yang paling umum dan paling serius dalam hal komplikasi adalah grup A betahemolitis streptococcus. Bakteri ini menyebabkan penyakit strep throat dan diasosiasikan dengan kerusakan klep di jantung (demam rematik) dan ginjal (nephritis), tonsillitis, radang paru, sinusitis, dan infeksi telinga.

·         Therapi pengobatan
Pengobatan
Ø  Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri
Ø  (analgetik),
Ø  obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat.
Ø  Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yangberusia
dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye.

Ø  Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik.
Ø  Untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam rematik),
Ø  jika penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika penderita
Ø  memiliki alergi terhadap penicillin bisa diganti dengan erythromycin atau
Ø  antibiotik lainnya.


Untuk membantu meringankan rasa sakit, dokter biasanya memberikan obat yang bersifat pain reliever atau pereda nyeri. Misalnya, asetaminofen (parasetamol) atau ibuprofen yang dapat membantu mengatasi rasa sakit dan demam.
Pada Anak-anak
Bila anak menjadi gelisah, rewel, sulit tidur, lemah, atau lesu karena gejala radang tenggorokan ini, kita dapat membantu meredakan gejalanya. Tidak harus selalu dengan obat, mungkin dengan tindakan yang mudah dan sederhana bisa membantu menenangkan anak
  • Nyeri menelan: banyak minum air hangat, obat kumur, lozenges, parasetamol untuk meredakan nyeri.
  • Demam : banyak minum, parasetamol, kompres hangat atau seka tubuh dengan air hangat.
  • Hidung tersumbat dan berair (meler): banyak minum hangat, anak diuap dengan baskom air hangat, tetes hidung NaCI.
Dalam beberapa kasus, radang tenggorokan karena virus baru sembuh setelah 2 minggu. Yang diperlukan adalah kesabaran dan pengawasan orang tua terhadap gejala anak. Bawalah anak ke dokter bila gejala terlihat makin berat; anak tampak sulit bernapas, kebiruan pada bibir dan/atau kuku, anak tampak gelisah atau justru sangat mengantuk, atau anak batuk/demam berkepanjangan.


Kasus 5
Seorang anak laki – laki usia 10 tahun dengan keluhan sakit tenggorokan, demam, dan sulit menelan.Menurut keterangan keluarga kondisi tersebut sering berulang dalam 1 tahun bisa 3 – 4 kali mengalami kekambuhan. Berdasarkan penjelasan tersebut dokter menyarankan agar anak tersebut dilakukan tindakan operasai pengangkatan tonsil.Keluarga menyetujui rencana tindakan tersebut.
·         Penyakit yang diderita adalah Tonsilitis dan Adenoiditas
1.      Definisi
Peradangan pada tonsil disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

2.      Jenis
Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis
            membranosa, dan tonsillitis kronis.
·         Tonsilitis Akut

Etiologi
Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus,
pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Virus terkadang juga
menjadi penyebab penyakit ini. Tonsillitis ini seringkali terjadi mendadak pada anak-anak
dengan peningkatan suhu 1-4 derajat celcius.

Patofisiologi
Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian
bila kuman ini terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi, terjadi pembendunagn
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.

Manifestasi Klinik
Tonsillitis Streotokokus grup A harus dibedakan dri difteri, faringitis non bacterial, faringitis
bakteri bentuk lain dan mononucleosis infeksiosa. Gejala dan tanda-tanda yang ditemukan
dalam tonsillitis akut ini meliputi suhu tubuh naik hingga 40o celcius, nyeri tenggorok dan
nyeri sewaktu menelan, nafas yang berbau, suara akan menjadi serak, demam dengan suhu
tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di persendian, tidak nafsu makan, dan rasa nyeri di
telinga. Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat
detritus berbentuk folikel, lacuna akan tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula
membengkak dan nyeri tekan.

Komplikasi
Otitis media akut (pada anak-anak), abses peritonsil, abses parafaring, toksemia, septicemia,
bronchitis, nefritis akut, miokarditis, dan arthritis.


Pemeriksaan
1. Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam
tubuh pasien merupkan akteri gru A, karena grup ini disertai dengan demam renmatik,
glomerulnefritis, dan demam jengkering.
2. Pemeriksaan penunjang
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.
3. Terapi
Dengan menggunakan antibiotic spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik, dan obat kumur yang mengandung desinfektan.

Perawatan
Perawatan yang dilakukan pada penderita tonsillitis biasanya dengan perawatan sendiri dan
dengan menggunakan antibiotic. Tindakan operasi hanya dilakukan jika sudah mencapai
tonsillitis yang tidak dapat ditangani sendiri.

1. Perawatan sendiri
Apabila penderita tonsillitis diserang karena virus sebaiknya biarkan virus itu hilangdengan sendirinya. Selma satu atau dua minggu sebaiknya penderita banyak istirahat,minum minuman hangat juga mengkonsumsi cairan menyejukkan.
2. Antibiotik
Jika tonsillitis disebabkan oleh bakteri maka antibiotic yang akan berperan dalam
proses penyembuhan. Antibiotic oral perlu dimakan selama setidaknya 10 hari.

3. Tindakan operasi
Tonsillectomy biasanya dilakukan pada anak-anak jika ank mengalami tonsillitis
selama tujuh kali atau lebih dalam setahun, anak mengalami tonsillitis lima kali atau
lebih dalam dua tahun, amandel membengkak dan berakibat sulit bernafas, adanya
abses.

·         Tonsilitis Membranosa

Ada beberapa macam penyakit yang termasuk dalam tonsillitis membranosa beberapa
diantaranya yaitu Tonsilitis difteri, Tonsilitis septic, serta Angina Plaut Vincent.

1.Tonsilitis Difteri

Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram
positis pleomorfik5penghuni saluran pernapasan atas yang dapat menimbulkan
abnormalitas toksik yang dapat mematikan bila terinfeksi bakteriofag.


Patofisiologi
Bakteri masuk melalui mukosa lalu melekat serta berkembang biak pada permukaan
mukosa saluran pernapasan atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes ke
sekeliling lalu selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalu pembuluh darah dan
limfe. Toksin ini merupakan suatu protein yang mempunyai 2 fragmen yaitu
aminoterminal sebagai fragmen A dan fragmen B, carboxyterminal yang disatukan
melalui ikatan disulfide.

Manifestasi Klinis
Tonsillitis difteri ini lebih sering terjadi pada anak-anak pada usia 2-5 tahun.
Penularan melalui udara, benda atau makanan uang terkontaminasai dengan masa in
kubasi 2-7 hari. Gejala umum dari penyaki ini adalah terjadi kenaikan suhu subfebril,
nyeri tnggorok, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, dan nadi lambat.
Gejala local berupa nyeri tenggorok, tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor
makin lama makin meluasdan menyatu membentuk membran semu. Membran ini
melekat eratpada dasar dan bila diangkat akan timbul pendarahan. Jika menutupi
laring akan menimbulkan serak dan stridor inspirasi, bila menghebat akan terjadi
sesak nafas. Bila infeksi tidak terbendung kelenjar limfa leher akan membengkak
menyerupai leher sapi. Gejala eksotoksin akan menimbulkan kerusakan pada jantung
berupa miokarditis sampai decompensation cordis .

Komplikasi
Laryngitis difteri, miokarditis, kelumpuhan otot palatum mole, kelumpuhan otot mata,
otot faring laring sehingga suara parau, kelumpuhan otot pernapasan, dan
albuminuria.

Diagnosis
Diagnosis tonsillitis difteri harus dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis karena
penundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Pemeriksaan preparat
langsung diidentifikasi secara fluorescent antibody technique yang memerlukan
seorang ahli.Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphteriae dengan pembiakan pada
media Loffler dilanjutkan tes toksinogenesitas secara vivo dan vitro. Cara PCR
(Polymerase Chain Reaction) dapat membantu menegakkan diagnosis tapi
pemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penjagn lebih lanjut untuk
menggunakan secara luas.
Pemeriksaan
1. Tes Laboratorium
Dilakukan dengan cara preparat langsung kuman(dari permukaan bawah membrane
semu). Medium transport yang dapat dipaki adalah agar Mac conkey atauLoffler.
2.Tes Schick (tes kerentnan terhapad dihteria)
3. Terapi
Anti difteri serum diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur dengan dosis 20.000-
100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit itu.

Pengobatan
Tujuan dari pengobatan penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang
belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi
minimal, mengeliminasi C.diphteria untuk mencegah penularan serta mengobati
infeksi penyerta dan penyulit diphtheria. Secara umum dapat dilakukan dengan cara
istirahat selama kurang lebih 2 minggu serta pemberian cairan.
Secara khusus dapat dilakukakan dengan pemberian :
1.Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)
2.Anti microbial : untuk menghentikan produksi toksin, yaitu penisilin prokain 50.000-
100.000 KI/BB/hariselama 7-10 hari, bila alergi diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari.
3.Kortikosteroid : diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas
bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik.
4.Pengobatan penyulit : untuk menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh
karena penyulit yang disebabkan oleh toksin umumnya reversible.
5.Pengobatan carrier : ditujukan bagi penderitayang tidak mempunyai keluhan.

Pencegahan
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan pada diri
anak serta memberikan penyuluhan tentang penyakit ini pada anak-anak. Selainitu
juga diberikan imunisasi yang terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier.

·         Tonsilitis kronis

Etiologi
bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut , namun terkadang
bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram negatif.
Mulut yang tidk hygiene, pengobatan radang akut yang tidak adekuat, rangsangan kronik
karena rokok maupun makanan.

Patofisiologi
Karena proses rang berulang maka epitel mukosa dan jarinagn limfoid terkikis, sehingga pada
proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan
mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini
meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa
tonsilaris.

Manifestasi klinis
Adanya keluhan pasien di tenggookan seperti ada penghalang, tenggorokan terasa kering,
pernapasan berbau. Saat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak
rata, kriptus membesar dan terisi detritus.

Komplikasi
Timbul rhinitis kronis, sinusitis atau optitis media secara perkontinuitatum, endokarditis,
arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitus, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan
furunkulosis.

Pemeriksaan

1. Terapi
Terapi mulut (terapi lokal) ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur atau
obat isap.
Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa tidak berhasil.
2. Faktor penunjang
Kultur dan uji resistensi kuman dari sedian apus tonsil.

Pengobatan
Tonsilitis kronis dapat diatasi dengan menjaga higiene mulut, obat kumur, obat hisap, dan
tonsilektomi.
·         Penyakit yang diderita adalah Adenoiditas
Radang tonsil-adenoid, dalam bahasa awam sering disebut amandel, adalah penyakit yang sering ditemukan terutama pada anak-anak. 

·         Gejala
 Gejala radang tonsil-adenoid akut adalah rasa nyeri pada saat menelan bahkan kadang-kadang rasa nyeri tersebut terasa sampai di telinga (otalgia). Pada anak kecil mungkin ia akan menjadi rewel, tidak mau makan, mengeluh telinganya sakit bahkan sering disertai
pembengkakan dan nyeri tekan pada kelenjar getah bening yang terletak pada perbatasan antara dagu-leher. Gejala lainnya adalah rasa lesu, nyeri sendi, demam yang cukup tinggi. Pada anak suhu tubuh dapat mencapai 40o C.
Gejala dari radang tonsil-adenoid kronis adalah rasa mengganjal atau rasa kering di tenggorok, tidur mendengkur, kesulitan bernapas dan napas kadang berbunyi akibat pembesaran adenoid serta bau mulut menjadi tidak segar.



·         Phatofisiologi
Secara sederhana, penyakit ini terbagi atas radang tonsil-adenoid akut (mendadak) dan radang tonsil-adenoid kronis (menahun). Selain pembagian itu, masih ada pembagian lain yang tidak saya jelaskan di sini. Tonsil terletak pada kedua lipatan pilar rongga mulut sehingga bila ia membesar kita dapat melihatnya saat membuka mulut lebar di depan
kaca. Sedangkan adenoid terletak pada dinding belakang tengah nasofaring yang di kanan dan kirinya, agak ke atas, terletak muara tuba Eustachius yaitu saluran yang menghubungkan antara telinga tengah dengan nasofaring. 
Tonsil membesar maksimal pada anak usia 5-6 tahun, sedangkan adenoid membesar maksimal pada usia 3-4 tahun. Setelah itu mengecil dan biasanya hilang sama sekali setelah usia anak mencapai 12-14 tahun.
Dengan demikian, setelah usia pubertas, adenoid sudah tidak ditemukan.  Tonsil dan adenoid merupakan jaringan limfoid yang pada keadaan normal berperan membantu sistem imunitas, tetapi bila telah terjadi infeksi kronis maka akan terjadi pengikisan dan fibrosis dari jaringan
limfoid. Dan pada penyembuhan jaringan limfoid tersebut akan diganti oleh jaringan parut yang tidak berguna. 
Bila infeksi berlangsung terus-menerus maka perubahan jaringan limfoid menjadi jaringan parut pun akan makin banyak dan berlangsung terus-menerus pula sehingga pada akhirnya seluruh tonsil akan berubah menjadi jaringan parut sehingga akibatnya tidak ada lagi berfungsi.
Bahkan justru tonsil-adenoid itu sendiri akan menjadi fokus infeksi yang secara periodik dapat menyebarkan bakteri berbahaya bagi tubuh secara keseluruhan. Penyebab yang tersering dari radang tonsil-adenoid akut adalah bakteri berbentuk kokus (lebih dari 50 persen) dan sisanya adalah infeksi virus. Sedangkan penyebab radang tonsil-adenoid kronis selain bakteri berbentuk kokus juga dapat ditemukan bakteri lain yaitu golongan gram negatif.
Cara penularan infeksi tonsil-adenoid akut pada seseorang dapat terjadi langsung melalui percikan ludah (droplet infection) yang mengandung bakteri dari orang lain yang sedang menderita radang tonsil. Pada anak, karena imunitas tubuhnya belum sempurna, maka bila
ia telah tertular radang tonsil maka selanjutnya penyakitnya cenderung untuk kambuh dan menjadi kronis.
Radang tonsil-adenoid kronis merupakan kelanjutan dari radang tonsil-adenoid akut. Beberapa faktor kecenderungan pada anak yang dapat menimbulkan radang tonsil-adenoid kronis adalah pengobatan radang tonsil-adenoid akut yang tidak tuntas, rangsangan berupa iritasi kronis dari asap rokok, iritasi kronis dari makanan (pedas, minyak goreng yang sudah rusak dan es), pengaruh cuaca dan pergantian musim, suhu udara ruangan yang terlampau dingin dan kebersihan rongga mulut yang buruk.
 




·         Komplikasi
Radang tonsil adnoid kronis dan Radang tonsil adnoid akut  dapat menyebabkan komplikasi cukup serius, dimulai pada organ yang letaknya dekat dengan tonsil itu sendiri sampai pada organ yang letaknya jauh dari tonsil dengan cara mengikuti aliran darah (hematogen) atau getah bening.Komplikasi dapat berupa timbulnya nanah pada peritonsil, abses parafaring, radang telinga tengah akut, radang telinga tengah kronis (congekan), radang sinus paranasal (sinusitis), radang bronchus paru (bronkhitis) , radang ginjal (glomerulonefritis) , radang otot jantung (miokarditis) dan radang sendi (arthritis).
 Sebenarnya komplikasi radang tonsil-adenoid pada anak dapat dicegah dengan memperhatikan gizi anak, kebersihan anak dan menjauhkan anak dari hal-hal yang berbahaya seperti asap rokok. Satu hal yang sebaiknya dilakukan adalah segera konsultasikan ke dokter bila anak Anda sakit
·         Pengobatan dan terapi
Pengobatan radang tonsil-adenoid akut berupa pemberian antibiotik, penurun panas, vitamin, serta terapi penunjang lain sesuai indikasi dan jangan lupa istirahat yang cukup. Pada keadaan ini anak sebaiknya dijaga agar tidak terlalu banyak beraktivitas, selain untuk
mempercepat penyembuhan juga mengurangi risiko menularkan penyakitnya pada adik, saudara atau temannya.
 Tidak semua radang tonsil-adenoid kronis harus dioperasi. Biasanya operasi pengangkatan tonsil-adenoid baru dilakukan bila pada kontrol lanjutan terdapat kecurigaan mengarah timbulnya komplikasi berbahaya.  Pada keadaan di mana terdapat radang tonsil-adenoid kronis berulang lebih dari 6 kali per tahun selama dua tahun berturut-turut, radang
tonsil-adenoid kronis dengan komplikasi (sebagaimana diuraikan di atas), maka operasi sangat dianjurkan dengan tujuan mempercepat penyembuhan penyakit dan mengurangi risiko timbulnya komplikasi yang lebih berat.
Dalam menentukan waktu operasi yang tepat, dokter spesialis THT akan bekerja sama dengan dokter spesialis anak. Beberapa pedoman yang dapat dipakai dalam menentukan waktu operasi adalah: infeksinya telah reda atau anak bebas demam paling sedikit lima hari, hasil pemeriksaan darah tepi dalam batas normal, fungsi pembekuan serta masa perdarahan
normal serta fungsi jantung-paru norma






Kasus 6                                                                                                                                              
Seorang anak perempuan usia 12 tahun dengan keluhan kesulitan menelan kecuali cairan ( Disfagia) dan nyeri setempat.Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembengkakan pada platum mole.Doktermemberikan antibiotic selama 5 hari dan apabila abses tidak menghilangmaka akan direncanakan untuk dilakukan insi – insi.Selanjutnya dokter menyarankan untuk mengangkat tonsil guna mencegah kekambuhan.
·         Penyakit yang diderita adalah Abses Peritonsiler.
·         Phatofisiologinya
Patofisiologi abses peritonsiler belum diketahui sepenuhnya. Namun, teori yang paling banyak diterima adalah kelanjutan episode tonsillitis eksudatif menjadi peritonsillitis dan diikuti pembentukan abses. Berikut ini adalah tiga teori patogenesa terjadinya abses peritonsiler8 :
·         Teori Parkinson (1970)
Penyebaran abses ke ruang peritonsil oleh karena di dalam ruang peritonsil terdapat kelompok kelenjar yang terletak di permukaan superior dari kapsul tonsil di pool atas. Kelompok kelenjar ini mudah mendapatkan infeksi dari tonsil. Bila kelompok ini terinfeksi mudah terjadi abses di dalam ruangan yang terisi jaringan ikat longgar8.
Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh karena itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini, sehingga tampak palatum mole membengkak. Abses peritonsil juga dapat terbentuk di bagian inferior, namun jarang6.
·         Teori Ballenger(1977)
Perluasan infeksi ke ruang peritonsil, berasal dari kripte yang besar di pole atas yang merupakan celah yang berhubungan erat dengan bagian luar tonsil, sehingga infeksi yang terjadi pada kripte mudah menjalar ke atas belakang (superior posterior) dari ruangan peritonsil8.
·         Teori Paparella (1980)
Terjadinya abses oleh karena infeksi yang berasal dari proses akut tonsil dan menembus kapsul, sampai ke ruangan peritonsil tetapi masih dalam batas otot konstriktor faring8.
Pada stadium permulaan (stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak juga permukaan yang hiperemis. Bila proses berlanjut, daerah tersebut lebih lunak dan berwarna kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah, depan, dan bawah, uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra lateral. Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m.pterigoid interna, sehingga timbul trismus6. Abses dapat pecah spontan, sehingga dapat terjadi aspirasi ke paru. Selain itu, PTA terbukti dapat timbul de novo tanpa ada riwayat tonsillitis kronis atau berulang sebelumnya2. PTA dapat juga merupakan suatu gambaran dari infeksi virus Epstein-Barr12.
Abses peritonsil yang timbul sebagai kelanjutan tonsilitis akut biasanya timbul pada hari ke 3 dan ke 4 dari tonsillitis akut. Sumber infeksi berasal dari salah satu kripta yang mengalami peradangan, biasanya kripta fossa supratonsil, dimana ukurannya besar, merupakan kavitas seperti celah dengan tepi tidak teratur, dan berhubungan erat dengan bagian posterior dan bagian luar tonsil10. Muara dari kripta yang mengalami infeksi tersebut tertutup sehingga abses yang terbentuk di dalam saluran kripta akan pecah melalui kapsul tonsil dan berkumpul pada tonsil “bed”. Pus yang berkumpul pada fosa supratonsil tersebut akan menimbulkan penonjolan, pembengkakan dan edema dari palatum molle sehingga tonsil akan terdorong kearah medial bawah. Walaupun sangat jarang abses peritonsil dapat terbentuk di inferior.
Abses peritonsiler juga bisa sebagai kelanjutan dari infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus weber. Kelenjar ini berhubungan dengan permukaan atas tonsil lewat duktus dan kelenjar ini membersihkan area tonsil dari debris dan sisa makanan yang terperangkap di kripta tonsil. Inflamasi pada kelenjar weber dapat menyebabkan selulitis. Infeksi ini menyebabkan duktus sampai permukaan tonsil menjadi lebih terobstruksi akibat inflamasi sekitarnya. Hasilnya adalah nekrosis jaringan dan pembentukan pus yang menghasilkan tanda dan gejala abses peritonsil

·         Gejala dan Tanda Klinis
Abses peritonsil akan menggeser kutub superior tonsil ke arah garis tengah dan dapat diketahui derajat pembengkakan yang ditimbulkan di palatum molle. Terdapat riwayat faringitis akut, tonsillitis, dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan atau faring unilateral yang semakin memburuk. Keparahan dan progresivitasnya ditunjukkan dari trismus. Kebanyakan pasien menderita nyeri hebat.
Gejala yang dikeluhkan pasien antara lain panas sub febris, disfagia dan odinofagia yang menyolok dan spontan, “hot potato voice”, mengunyah terasa sakit karena m. masseter menekan tonsil yang meradang, nyeri telinga (otalgia) ipsilateral, foetor ex orae, perubahan suara karena hipersalivasi dan banyak ludah yang menumpuk di faring, rinolalia aperta karena udem palatum molle (udem dapat terjadi karena infeksi menjalar ke radix lingua dan epiglotis = udem perifokalis), trismus (terbatasnya kemampuan untuk membuka rongga mulut) yang bervariasi, tergantung derajat keparahan dan progresivitas penyakit, trismus menandakan adanya inflamasi dinding lateral faring dan m. Pterigoid interna, sehingga menimbulkan spasme muskulus tersebut. Akibat limfadenopati dan inflamasi otot, pasien sering mengeluhkan nyeri leher dan terbatasnya gerakan leher (torticolis).
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tonsilitis akut dengan asimetri faring sampai dehidrasi dan sepsis. Didapatkan pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar regional. Pada pemeriksaan kavum oral terdapat eritema, asimetri palatum mole, eksudasi tonsil, dan pergeseran uvula kontralateral. Dan pada palpasi palatum molle teraba fluktuasi. Nasofaringoskopi dan laringoskopi fleksibel direkomendasikan pada pasien yang mengalami kesulitan bernapas, untuk melihat ada tidaknya epiglotitis dan supraglotis
PTA biasanya unilateral dan terletak di pole superior dari tonsil yang terkena, di fossa supratonsillar. Mukosa di lipatan supratonsillar tampak pucat dan bahkan seperti bintil – bintil kecil. Palpasi daerah palatum mole terdapat fluktuasi. Nasofaringoskopi dan laringoskopi fleksibel direkomendasikan untuk penderita yang mengalami gangguan pernafasan.
Prosedur diagnosis yaitu dengan melakukan aspirasi jarum. Tempat yang akan dilakukaan aspirasi dibius atau dianestesi menggunakan lidokain dan epinephrine dengan menggunakan jarum besar (berukuran 16–18) yang biasa menempel pada syringe berukuran 10cc. Aspirasi material yang purulen merupakan tanda khas, dan material dapat dikirim untuk dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebab infeksi demi kepentingan terapi antibiotika.

·         Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium berupa hitung darah lengkap, pengukuran kadar elektrolit, dan kultur darah. Karena pasien dengan abses peritonsil seringkali dalam keadaan sepsis dan menunjukkan tingkat dehidrasi yang bervariasi akibat tidak tercukupinya asupan makanan. Usap dan kultur tenggorok (throat swab and culture). Untuk membantu dalam indentifikasi organisme penyebab infeksi. Hasilnya dapat digunakan dalam pemilihan antibiotik yang tepat serta efektif, dan untuk mencegah timbulnya resistensi antibiotik.
Pemeriksaan radiologi dapat membantu pada terapi abses peritonsil yang tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan inspirasi dan drainase atau terdapat perburukan edema pada selulitis peritonsil yang telah diterapi. Pada kasus tertentu dimana ternyata absesnya terdapat di tonsil itu sendiri dan atau sebagian abses tersembunyi pada inferior atau posterior tonsil. Foto polos dapat berupa pandangan jaringan lunak lateral dari nasofaring dan orofaring dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal. Pada posisi AP, terdapat distorsi jaringan lunak, tapi tidak begitu membantu dalam menentukan lokasi abses.

·         Terapi
Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika dosis tinggi dan obat simtomatik. Juga perlu kumur-kumur dengan air hangat dan kompres dingin pada leher. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin 600.000-1.200.000 unit atau ampisilin/amoksisilin 3-4 x 250-500 mg atau sefalosporin 3-4 x 250-500 mg, metronidazol 3-4 x 250-500 mg.
Irigasi dengan larutan NaCl 0,85% hangat (110-1150F) atau glukosa 5% tiap 2-3 jam dapat memberikan perbaikan simtomatis dari rasa sakit pada abses peritonsiler. Kompres hangat di leher dan rahang akan mengendurkan ketegangan otot.
·         Terapi Operasi
Bila telah terjadi fluktuasi dan terapi konservatif tidak menolong, maka tindakan aspirasi pus cukup memadai, tetapi lebih sering harus diikuti dengan insisi. Drainase terbaik adalah tonsilektomi ‘quinsy’, yang dilakukan dengan anastesi umum dan perlindungan antibiotika. Yang mengherankan, tonsil tidak mengalami perdarahan hebat, dan sebenarnya tindakan ini lebih mudah dibandingkan pengangkatan tonsil beberapa minggu kemudian, sewaktu ruangan peritonsil yang sebelumnya terisi pus terah terobliterasi dengan jaringan parut dan fibrosis, dan kapsul tonsilaris kurang mudah dikenali.
Bila tidak terdapat ahli dan fasilitas untuk melakukan tonsilektomi ‘quinsy’, maka terapi yang sesuai adalah insisi dan drainase melalui mulut. Drainase di tempat praktek membutuhkan lampu kepala dan alat penyedot faring yang baik, harus dilakukan di lokasi yang tepat, dan harus dilakukan tindakan untuk menghindarkan aspirasi pus ke paru. Teknik insisi dan drainase membutuhkan anastesi local.

·         Komplikasi
Komplikasi abses peritonsil dapat berupa edema laring akibat tertutupnya rima glotis atau edema glotis akibat proses perluasan radang ke bawah. Keadaan ini membahayakan karena bisa menyebabkan obstruksi jalan napas. Abses yang pecah secara spontan terutama waktu tidur dapat mengakibatkan aspirasi pneumonia dan piemia. Abses yang ruptur spontan biasanya pecah dari pilar anterior. Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga dapat terjadi abses parafaring. Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis. Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial, dapat mengakibatkan trombus sinus kavernosus, meningitis, dan abses otak. Sekuele poststreptokokus (glomerulonefritis, demam rhematik) apabila bakteri penyebab infeksi adalah streptococcus Grup A. Kematian, walaupun jarang dapat terjadi akibat perdarahan atau nekrosis septik ke selubung karotis atau carotid sheath. Dapat juga terjadi peritonsilitis kronis dengan aliran pus yang berjeda.Komplikasi juga terjadi akibat tindakan insisi pada abses akibat perdarahan yang terjadi pada arteri supratonsilar.
Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi jika diagnosis PTA diabaikan. Beratnya komplikasi tergantung dari progresivitas penyakit. Untuk itulah diperlukan penanganan dan intervensi sejak dini.
















Kasus 7
Seorang laki – laki berusia 45 tahun bekerja sebagai seorang penceramah dan perokok berat datang dengan keluhan suara serak terkadang tidak dapat mengeluarkan suara.Pasien mengatakan memiliki riwayat sinusitis kronis.Pasien mendapatkan therapy antibiotika dan dianjurkan untuk mengistirahatkan suara dan membatasi merokok.
·         Penyakit yang diderita adalah Laringitas.
Laryngitis adalah peradangan yang terjadi pada pita suara anda (larynx) karena terlalu banyak digunakan, karena iritasi atau karena adanya infeksi. Pita suara adalah suatu susunan yang terdiri dari tulang rawan, otot dan membran mukosa yang membentuk pintu masuk dari batang tenggorok anda (trachea). Di dalam kotak suara anda terdapat pita suara—dua buah membran mukosa yang terlipat dua membungkus otot dan tulang rawan.
Biasanya pita suara anda akan membuka dan menutup dengan lancar, membentuk suara melalui pergerakan dan getaran yang terbentuk. Tapi bila terjadi laringitis, pita suara anda akan meradang atau terjadi iritasi pada pita suara anda. Pita suara tersebut akan membengkak, menyebabkan terjadinya perubahan suara yang diproduksi oleh udara yang lewat melalui celah diatnara keduanya. Akibatnya, suara anda akan terdengar serak. Pada beberapa kasus laringitis, suara anda akan menjadi sangat lemah sehingga tidak terdengar.
Laringitis dapat berlangsung dalam waktu singkat (akut) atau berlansung lama (kronis). Meskipun laringitis akut biasanya hanya karena terjadinya iritasi dan peradagnan akibat virus, suara serak yang sering terjadi dapat menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.
·         Tanda-tanda dan gejala
Laringitis sering kali membuat anda merasa harus berulang kali berdehem untuk membersihkan tenggorokan anda. Tanda-tanda dan gejala lain adalah sebagai berikut:
  1. Suara serak
  2. Suara pelan
  3. Rasa gatal dan kasar di tenggorokan
  4. Sakit tenggorokan
  5. Tenggorokan kering
  6. Batuk kering



·         Penyebab
Biasanya infeksi virus menyebabkan laringitis akut. Infeksi bakteri seperti difteri juga dapat menjadi penyebabnya, tapi hal ini jarang terjadi. Laringitis akut dapat jgua terjadi saat anda menderita suatu penyakit atau setelah anda sembuh dari suatu penyakit, seperti selesma, flu atau radang paru-paru (pneumonia).
Kasus yang sering terjadi pada laringitis kronis termasuk juga iritasi yang terus menerus terjadi karena penggunaan alkohol yang berlebihan, banyak merokok atau asam dari perut yang mengalir kembali ke dalam kerongkongan dan tenggorokan, suatu kondisi yang disebut gastroesophageal reflux disease (GERD).
Pada orang dewasa, penyebab lain terjadinya suara serak yang kronis adalah:
  1. Perlukaan (sariawan) pada pita suara
  2. Bisul (polip atau nodules) pada pita suara
  3. Pita suara yang kendur karena faktor usia
  4. Kelumpuhan pada pita suara, yang merupakan akibat dari suatu cedera, serangan stroke atau adanya tumor pada paru-paru

·         Faktor Risiko
Faktor-faktor berikut ini akan membuat anda memiliki risiko yang lebih besar untuk mengidap laringitis:
  1. Adanya infeksi pada saluran pernapasan, seperti selesma, influensa, bronkhitis atau sinusitis
  2. Keterpaparan terhadap zat-zat yang membuat iritasi, seperti asap rokok, alkohol yang berlebihan, asam lambung atau zat-zat kimia yang terdapat pada tempat kerja anda.
  3. Terlalu banyak menggunakan suara anda, dengan terlalu banyak bicara, berbicara terlalu keras atau menyanyi.

·         Phatofisiologi
Laringitis biasanya adalah masalah yang bersifat sementara, karena dapat membaik dengan sendirinya atau setelah menjalani pengobatan. Anda dapat menangani kasus laringitis akut dengan langkah-langkah perawatan sendiri, seperti dengan mengistirahatkan suara anda, minum banyak cairan dan mengisap pelega tenggorokan. Bila suara serak sudah diderita berlangsung lebih dari dua minggu pada orang dewasa atau lebih dari satu minggu pada anak-anak, kunjungi dokter anda.
Bila anak anda mengalami laringitis dan menderita demam tinggi, tidak mau makan atau minum, mengeluarkan banyak air liur, atau mengalami kesulitan bernapas, segera kunjungi dokter anda.  Anak-anak berusia kurang dari empat tahun yang mengalami laringitis dapat menderinta croup – peradangan pada pita suara dan saluran udara yang terletak tepat dibawah pita suara. Croup dapat menyebabkan suara batuk yang keras dan suara yang serak.

Pengamatan dan Diagnosis
Tanda-tanda utama terjadinya laringitis adalah suara serak. Perubahan pada suara anda dapat bervariasi tergantung pada tingkat infeksi atau iritasi, bisa hanya sedikit serak hingga suara yang hilang total. Dokter anda mungkin akan menanyakan apakan anda seorang perokok atau kondisi kesehatan anda saat itu – apakah anda sedang menderita selesa, influenza atau apakah anda menderita alergi – yang dapat menjadi penyebab terjadinya iritasi pada pita suara. Dokter anda mungkin juga akan menanyakan apakah anda terlalu banyak menggunakanptia suara anda – seperti dengan menyanyi atau berteriak – yang juga dapat menyebabkan iritasi pada pita suara anda.
Bila anda mengalami suara serak yang sifatnya kronis, dokter anda mungkin akan mendengarkan suara anda dan memvisualisasikan pita suara anda atau mereferensikan anda pada spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (otolaryngologist). Dokter anda dapat menggunakan teknik-teknik dibawah ini untuk membantu diagnosis laringitis:
  1. Laryngoscopy. Dokter anda akan secara visual memeriksa pita suara anda melalui prosedur yang disebut laryngoscopy, dengan memasukkan semacam cermin yang ringan dan sangat kecil ke belakang tenggorokan anda. Atau dokter mungkin akan menggunakan fiber-optic laryngoscopy. Tindakan ini berarti memasukkan tabung yang kecil dan fleksibel (endoscope) dengan kamera berukuran mini dan sangat ringan melalui hidung atau mulut ke arah belakang tenggorokan anda. Kemudian dokter akan melihat pergerakan pita suara saat anda berbicara.
  2. Biopsi. Bila dokter anda melihat adanya wilayah yang mencurigakan, dokter akan melakukan biopsi – mengambil contoh jaringan untuk diperiksa dibawah mikroskop.

·         Pengobatan
Pengobatan yang dilakukan tergantung pada penyebab terjadinya laringitis. Pengobatan terbaik untuk laringitis yang diakibatkan oleh sebab-sebab yang umum, seperti virus, adalah dengan mengistirahatkan suara anda sebanyak mungkin dan tidak membersihkan tenggorokan dengan berdehem. Bila penyebabnya adalah zat yang dihirup, maka hindari zat penyebab iritasi tersebut.  Anda juga mungkin akant erbantu bila anda menghirup uap hangat dari baskom yang diisi air panas.
Bila anak anda yang masih berusia batita atau balita mengalami laringitis yang berindikasi ke arah croup, dokter anak mungkin akan meresepkan kortikosteroid seperti dexamethasone.
Untuk laringitis kronis yang juga berhubungan dengan kondisi lain seperti rasa terbakar di ulu hati, merokok atau alkoholisme, anda harus memperbaiki dulu kondisi-kondisi tersebut bila anda ingin membaik.
Bila anda merokok, berhentilah merokok. Sebagai tambahan, bila anda seorang perokok dan sering mengalami suara serak yang kerap kali terjadi, temui dokter anda dan lakukan pemeriksaan menyeluruh pada pita suara anda untuk memastikan tidak adanya sel-sel kanker pada pita suara anda. Bila dideteksi secara dini, kanker pada laring biasanya dapat diatasi dengan baik melalui tindakan operasi atau radiasi
Bila laringitis yang anda alami disebabkan oleh konsumsi alkohol, berhentilah minum alkohol. Bila anda tidak dapat berhenti mengkonsumsi alkohol secara sukarela, cari terapi yang dapat membantu anda melakukannya.
·         Pencegahan
Untuk mencegah kekeringan atau iritasi pada pita suara anda:
  1. Jangan merokok, dan hindari asap rokok dengan tidak menjadi perokok tidak langsung. Rokok akan membuat tenggorokan anda kering dan mengakibatkan iritasi pada pita suara anda.
  2. Minum banyak air. Cairan akan membantu menjaga agar lendir yang terdapat pada tenggorokan tidak terlalu banyak dan mudah untuk dibersihkan.
  3. Batasi penggunaan alkohol dan kafein untuk mencegah tenggorokan kering. Bila anda mengalami laringitis, hindari kedua zat tersebut diatas.
  4. Jangan berdehem untuk membersihkan tenggorokan anda. Berdehem tidak akan berakibat baik bagi anda, karena berdehem akan menyebabkan terjadinya vibrasi abnormal pada pita suara anda dan meningkatkan pembengkakan. Berdehem juga akan menyebabkan tenggorokan anda memproduksi lebih banyak lendir dan merasa lebih iritasi, membuat anda ingin berdehem lagi.


Perawatan sendiri
Langkah-langkah perawatan sendiri berikut ini mungkin dapat meringankan gejala-gejala laringitis dan mengurangi tekanan pada suara anda:
  1. Lembabkan tenggorokan anda. Cobalah untuk mengisap pelega tenggorokan, berkumur dengan air garam atau mengunyah permen karet.
  2. Gunakan alat pelembab ruangan. Jaga agar udara di sekitar rumah anda tetap lembab.
  3. Hindari berbicara atau menyanyi terlalu keras atau terlalu lama. Bila anda perlu berbicara dihadapan banyak orang, coba untuk menggunakan mikrophone atau megafon.
  4. Beri jeda pada suara anda. Istirahatkan suara anda bilamana mungkin.
  5. Cari pelatih suara. Pertimbangkan pilihan ini bila anda seorang penyanyi atau bila kualitas suara sangat penting bagi anda.
  6. Jangan berbisik-bisik. Berbisik akan menyebabkan lebih banyak tekanan pada pita surara anda daripada bila anda berbicara dengan suara normal.



·         Komplikasi
 Laringitis bisa mengakibatkan obstruksi pada saluran napas yang kemudian memicu terjadinya sesak napas yang apabila tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kematian. Laryngitis cenderung lebih parah pada pasien lansia dan dapat diperburuk oleh pneumoni


















BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Gangguan system Respiratory infeksi jalan nafas atas terjadi dikalangan usia.Gangguan system ini harus ditangani dengan khusus karna menghambat jalan nafas.Infeksi jalan nafas atas merupakan kondisi umum yang banyak mengenai kebanyakan orang diwaktu tertentu.Beberapa kondisi tersebut adalah akut,dengen gejala yang berlangsung lama atau terjadi secara berulang.Apabila kondisi ini dibiarkan akan mengakibatkan komplikasi penyakit lain.


Saran
Adapun saran yang penulis berikan agar tidak
terjadi gangguan system respiratory jalan nafas atas dan tidak terjadi komplikasi adalah:
1.Biasakn hidup sehat
2.Cuci tangan sebelum dan sesudah makan dan BAB
3.Memperhatikan gizi
4.Menjahui asap rokok
5. Satu hal yang sebaiknya dilakukan adalah segera konsultasikan ke dokter bila anak Anda atau Anda sakit.

















DAFTAR PUSTAKA

No comments:

Post a Comment

terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar