Topik :
Malaria
Pokok bahasan :
Pengetahuan dasar tentang malaria
Sub pokok bahasan :
Pengetahuan dasar jenis-jenis malaria
Peserta didik :
Mahasiswa
Waktu pertemuan :
1 x 10 menit
Pengajar : Satria
A. Tujuan
Instruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti perkuliahan
ini, peserta didik dapat memahami tentang pengetahuan dasar tentang malaria.
B. Tujuan
Instruksional Khusus (TIK)
Setelah mengikuti perkuliahan
ini, peserta didik dapat
1.
Menyebutkan
pengertian malaria
2.
Menyebutkan
gejala-gejala
3.
Pengobatan
malaria
C. Materi
Pengajaran (Terlampir)
1.
Pengertian
malaria
2.
Gejala-gejala
3.
Pengobatan malaria
D. Metode
Pengajaran
1.
Ceramah
2.
Tanya
jawab
E. Uraian
Kegiatan Belajar Mengajar
|
NO
|
NAMA
KEGIATAN
|
ALOKASI
WAKTU
|
KEGIATAN
PENGAJAR
|
KEGIATAN
PESERTA DIDIK
|
|
1
2
3
3.
|
Pendahuluan
Pelaksanan/Kegiatan inti
Penutup
|
2 menit
6 menit
2 menit
|
1.
Mengucapkan salam
2.
Memperkenalkan diri
3.
Menyampaikan tujuan
1.
Memaparkan pengertian, Malaria
yang sering dialami masyarakat, gejala Malaria
2.
Menjawab pertanyaan dari peserta
didik.
3.
Memberikan kesempatan untuk
bertanya kepada pesrta didik.
1.
Memberikan evaluasi secara lisan
tentang materi yang telah disampaikan.
2.
Menyimpulkan materi yang telah
disampaikan.
3.
Salam penutup.
|
1.
Menjawab salam
2.
Diam memperhatikan.
1.
Mendengarkan dengan baik.
2.
Bertanya kepada pengajar tentang
materi yang disampaikan.
3.
Menjawab pertanyaan yang diberikan
peserta didik.
1.
Menjawab evaluasi secara lisan.
2.
Memperhatikan
3.
Menjawab salam
|
F. Media
dan Sumber Pengajaran
Media:
1.
LCD
2.
Laptop
3.
PowerPoint
materi tentang Malaria
Sumber
Pengajaran:
1.
Ito
J, Ghosh A, Moreira LA, Wimmer EA, Jacobs-Lorena M. Transgenic anopheline
mosquitoes impaired in transmission of a malaria parasite. Nature 2002;417:387-8.
2.
www.wikipedia.org
G. Evaluasi
Hasil Pengajaran
Metode
: Tanya jawab / Lisan
Instrumen :
Peserta
didik dapat menjawab pertanyaan pengajar dengan menyebutkan :
1.
Sebanyak
90% peserta didik dapat menyebutkan pengertian Malaria dengan bahasanya
sendiri.
2.
Sebanyak
90% peserta didik mampu menyebutkan gejala-gejala
3.
Sebanyak
90% peserta didik mampu menyebutkan cara pengobatan Malaria.
MATERI PEMBELAJARAN
PENGETAHUAN DASAR MALARIA
A.
PENGERTIAN
Malaria
adalah sejenis penyakit menular
yang dalam manusia sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta
kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara. Untuk penemuannya atas
penyebab malaria, seorang dokter militer Prancis Charles
Louis Alphonse Laveran diberikan Penghargaan
Nobel untuk Fisiologi dan Medis pada 1907.
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata
lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa
dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin
menggigil) serta demam berkepanjangan. Dengan munculnya program pengendalian
yang didasarkan pada penggunaan residu insektisida, penyebaran penyakit malaria
telah dapat diatasi dengan cepat. Sejak tahun 1950, malaria telah berhasil
dibasmi di hampir seluruh Benua Eropa dan di daerah seperti Amerika Tengah dan
Amerika Selatan. Namun penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa
bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sekitar 100 juta kasus penyakit malaria
terjadi setiap tahunnya dan sekitar 1 persen diantaranya fatal. Seperti
kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian
di negara berkembang. Pertumbuhan penduduk yang cepat, migrasi, sanitasi yang
buruk, serta daerah yang terlalu padat, membantu memudahkan penyebaran penyakit
tersebut. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke
kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang
bermukim didaerah tersebut. Penyakit Malaria yang terjadi pada manusia Penyakit
malaria memiliki 4 jenis, dan masing-masing disebabkan oleh spesies parasit
yang berbeda. Gejala tiap-tiap jenis biasanya berupa meriang, panas dingin
menggigil dan keringat dingin. Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan,
gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik. Jenis malaria paling ringan
adalah malaria tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax, dengan gejala
demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi
(dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi). Demam rimba (jungle fever ),
malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh
Plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat
malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak,
menyebabkan koma, mengigau, serta kematian. Malaria kuartana yang disebabkan
oleh Plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit
malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18
sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang
kembali setiap 3 hari. Jenis ke empat dan merupakan jenis malaria yang paling
jarang ditemukan, disebabkan oleh Plasmodium ovale yang mirip dengan malaria
tertiana.
Pada masa inkubasi malaria, protozoa tumbuh didalam sel hati; beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah sejalan dengan perkembangan mereka, sehingga menyebabkan demam.
Pada masa inkubasi malaria, protozoa tumbuh didalam sel hati; beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah sejalan dengan perkembangan mereka, sehingga menyebabkan demam.
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat
cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria / Protozoa
genus Plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia ditularkan
oleh nyamuk malaria ( anopeles ) betina ( WHO 1981 ) ditandai dengan deman,
muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia. Parasit malaria pada
manusia yang menyebabkan Malaria adalah Plasmodium falciparum, plasmodium
vivax, plasmodium ovale dan plasmodium malariae.Parasit malaria yang terbanyak
di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan plasmodium vivax atau campuran
keduanya, sedangkan palsmodium ovale dan malariae pernah ditemukan di Sulawesi,
Irian Jaya dan negara Timor Leste. Proses penyebarannya adalah dimulai nyamuk
malaria yang mengandung parasit malaria, menggigit manusia sampai pecahnya
sizon darah atau timbulnya gejala demam. Proses penyebaran ini akan berbeda
dari setiap jenis parasit malaria yaitu antara 9-40 hari ( WHO 1997 ). Siklus
parasit malaria adalah setelah nyamuk Anopheles yang mengandung parasit malaria
menggigit manusia, maka keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk
kedalam darah dan jaringan hati. Parasit malaria pada siklus hidupnya,
membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati ( ekso-eritrositer ). Setelah
sel hati pecah akan keluar merozoit / kriptozoit yang masuk ke eritrosit
membentuk stadium sizon dalam eritrosit ( stadium eritrositer ), mulai bentuk
tropozoit muda sampai sison tua / matang sehingga eritrosit pecah dan keluar
merosoit. Merosoit sebagian besar masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil
membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk
malaria betina dan melanjutkan siklus hidup di tubuh nyamuk (stadium
sporogoni). Pada lambung nyamuk terjadi perkawinan antara sel gamet jantan
(mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot akan
berubah menjadi ookinet, kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk berubah
menjadi ookista. Setelah ookista matang kemudian pecah, maka keluar sporozoit
dan masuk ke kelenjar liur nyamuk yang siap untuk ditularkan ke dalam tubuh
manusia. Khusus P. Vivax dan P. Ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati
(sizon jaringan), sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan
siklusnya ke sel eritrosit tetapi tertanam di jaringan hati disebut Hipnosoit
(lihat bagan siklus), bentuk hipnosoit inilah yang menyebabkan malaria relapse.
Pada penderita yang mengandung hipnosoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya
tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah/sibuk/stres atau perobahan
iklim (musim hujan), maka hipnosoit akan terangsang untuk melanjutkan siklus
parasit dari dalam sel hati ke eritrosit. Setelah eritrosit yang berparasit
pecah akan timbul gejala penyakitnya kembali. Misalnya 1/2 tahun yang
sebelumnya pernah menderita P. Vivax/Ovale dan sembuh setelah diobati, suatu
saat dia pindah ke daerah bebas malaria dan tidak ada nyamuk malaria, dia
mengalami kelelahan/stres, maka gejala malaria muncul kembali dan bila
diperiksa SD-nya akan positif P. Vivax/Ovale. Pada P. Falciparum dapat
menyerang ke organ tubuh dan menimbulkan kerusakan seperti pada otak, ginjal,
paru, hati dan jantung, yang mengakibatkan terjadinya malaria berat/komplikasi,
sedangkan P. Vivax, P. Ovale dan P. Malariae tidak merusak organ tersebut. P.
falciparum dalam jaringan yang mengandung parasit tua di dalam otak, peristiwa
ini yang disebut sekuestrasi. Pada penderita malaria berat, sering tidak
ditemukan plasmodium dalam darah tepi karena telah mengalami sekuestrasi.
Meskipun angka kematian malaria serebral mencapai 20-50 %, hampir semua
penderita yang tertolong tidak menunjukkan gejala sisa neurologis (sekuele)
pada orang dewasa. Malaria pada anak sebagian kecil dapat terjadi sekuele. Pada
daerah hiperendemis atau immunitas tinggi apabila dilakukan pemeriksaan SD
sering dijumpai SD positif tanpa gejala klinis pada lebih dari 60 % jumlah
penduduk.
B. GEJALA-GEJALA MALARIA
Malaria
disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan penularan vektor untuk parasit
malaria manusia adalah nyamuk Anopheles. Ragam dari Plasmodium falciparum dari parasit ini bertanggung jawab
atas 80% kasus dan 90% kematian. Gejala dari malaria termasuk demam, menggigil, arthralgia (sakit persendian), muntah muntah, anemia, dan kejang. Dan mungkin juga rasa
"tingle" di kulit terutama malaria yang disebabkan oleh P.
falciparum. Komplikasi malaria termasuk koma dan kematian bila tak terawat; anak
kecil lebih mungkin berakibat fatal.

C. PENGOBATAN
Pengobatan
malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin. Untuk suatu serangan malaria
falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan
kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi
resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan
primakuin. Prinsip penanganan malaria secara umum adalah bila tanpa komplikasi
diberikan peroral artesunat kombinasi dengan amodiakuin (artesdiakuin) atau
coartem atau duo-cotexcin, sedangkan malaria dengan komplikasi diberikan
artesunat 2,4 mg/kgbb pada jam ke 0 - 12 - 24 - 72 dan seterusnya sampai pasien
bisa diterapi secara oral atau digunakan artemeter 3,2 mg/kgbb dilanjutkan
dengan 1,6 mg/kg.
No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar