BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dewasa
ini, banyak terjadi keracunan makanan yang terjadi di masyarakat Indonesia.
Keracunan makanan (Foodborne Disease)
terjadi akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh mikroorganisme
patogen. Untuk
mengatasi masalah foodborne disease dan membunuh bakteri patogen
penyebab foodborne disease, masyarakat pada umumnya menggunakan
antibiotik. Akan tetapi, antibiotik memberikan efek yang merugikan seperti
resistensi bakteri patogen dan terbunuhnya seluruh koloni mikroba di dalam usus
baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Untuk itu diperlukan adanya sanitasi makanan untuk
mencegah adanya keracunan makanan.
Penyakit akibat
bakteri merupakan penyakit yang sudah sering dijumpai di berbagai negara-negara
berkembang termasuk di Indonesia. Di antara berbagai penyakit yang disebabkan
oleh bakteri, yang masih menjadi perhatian yaitu infeksi bakteri Shigella yang merupakan intestinal
patogen yang menyebabkan Disentri Basiler. Habitat alamiah Shigella terbatas pada saluran pencernaan manusia dan primata
lainnya. Shigella ditularkan melalui makanan, jari, tinja, dan lalat dari orang
ke orang (food, fingers, feces, and flies).
Sebagian besar kasus infeksi Shigella
terjadi pada anak-anak di usia 10 tahun. Shigella
dysenteriae tersebar luas, pada tahun 1696 di Guatemala terdapat 110.000
kasus dengan 8000 yang mati. Karena manusia merupakan inang utama yang
diketahui dari Shigella yang patogen,
usaha pengendalian harus diarahkan pada pembersihan bakteri dari sumber-sumber
dengan cara 1) pengendalian sanitasi air, makanan, dan susu; pembuangan sampah;
dan pengendalian lalat; 2) isolasi
penderita dan desinfeksi ekskreta; 3) penemuan kasus-kasus subklinik dan
pembawa bakteri, khususnya pada para pengurus makanan.
1.2
Tujuan
a.
Tujuan umum
Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui Sanitasi Makanan dari Bakteri Shigella.
b.
Tujuan khusus
Tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah:
a)
Untuk mengetahui tentang Sanitasi Makanan
b)
Untuk mengetahui definisi bakteri Shigella
c)
Untuk mengetahui penularan Shigella lewat makanan ke tubuh manusia
d)
Untuk mengetahui gejala klinis keracunan makanan oleh Shigella
1.3
Manfaat
Manfaat
pembuatan makalah ini adalah:
a)
Mengetahui lebih jauh tentang Sanitasi Makanan
b)
Mengetahui lebih jauh dampak Shigella pada manusia
Sebagai media penambah
ilmu pengetahuan
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Definisi Sanitasi Makanan
Sanitasi makanan adalah salah satu usaha
pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk
membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu
kesehatan mulai dari sebelum makanan di produksi selama dalam proses
pengolahan, penyimpanan pengangkutan sampai pada saat dimana makanan dan
minuman tersebut siap untuk dikonsumsi kepada konsumen.
2.2 Tujuan Sanitasi Makanan
Menurut Chandra (2006) dan Oginawati (2008),
tujuan dari sanitasi makanan antara lain:
a. Menjamin keamanan dan
kebersihan makanan
b. Mencegah penularan
wabah penyakit
c. Mencegah beredarnya
produk makanan yang merugikan masyarakat
d. Mengurangi tingkat
kerusakan atau pembusukan pada makanan
e. Melindungi konsumen dari
kemungkinan terkena penyakit yang disebarkan oleh perantara-perantara makanan
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi sanitasi
makanan
Sanitasi makanan yang buruk dapat disebabkan
3 faktor yakni ; faktor fisik, faktor kimia dan faktor mikrobiologi.
1. Faktor
Fisik
Faktor fisik terkait dengan
kondisi ruangan yang tidak mendukung pengamanan makanan seperti sirkulasi udara
yang kurang baik, temperatur ruangan yang panas dan lembab, dan sebagainya.
Untuk menghindari kerusakan makanan yang disebabkan oleh faktor fisik, maka
perlu diperhatikan susunan dan konstruksi dapur serta tempat penyimpanan
makanan.
2. Faktor
Kimia
Sanitasi
makanan yang buruk disebabkan oleh faktor kimia karena adanya zat-zat kimia
yang digunakan untuk mempertahankan kesegaran bahan makanan, obat-obat
penyemprot hama, penggunaan wadah bekas obat-obat pertanian untuk kemasan
makanan, dan lain-lain.
3. Faktor
Mikrobiologi
Sanitasi
makanan yang buruk disebabkan oleh faktor mikrobiologi karena adanya
kontaminasi oleh bakteri, virus, jamur dan parasit. Akibat buruknya sanitasi
makanan dapat timbul gangguan kesehatan pada orang yang mengkonsumsi makanan
tersebut.
Akibat
mikroorganisme yang tersebar luas di alam lingkungan, produk pangan jarang
sekali yang steril dan umumnya tercemar oleh berbagai mikroorganisme karena
bahan pangan tersebut juga sebagai sumber makanan bagi perkembangan
mikrororganisme
2.4 Infeksi makanan akibat mikroorganisme
patogen hidup
Infeksi dari makanan akan timbul apabila
mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi mikroorganisme patogen yang hidup.
Mikroorganisme hidup tersebut kemudian akan berkembang di dalam tubuh dan
menimbulkan gejala-gejala penyakit dan menimbulkan gejala-gejala penyakit.
Waktu antara konsumsi makanan terkontaminasi dengan timbulnya gejala penyakit,
baik infeksi maupun peracunan tersebut dengan waktu inkubasi. Biasanya waktu
inkubasi dari infeksi oleh makanan lebih panjang dibandingkan dengan waktu
inkubasi peracunan makanan. Hal ini disebabkan karena mikroorganisme memerlukan
waktu untuk tumbuh dan berkembang biak di dalam tubuh.
Mikroorganisme yang paling banyak menimbulkan
infeksi makanan adalah dari kelompok bakteri. Sedangkan jenis makanan yang
sering terkontaminasi bakteri penyebab infeksi adalah makanan dari kelompok
berasam rendah, seperti daging, ikan, telor, susu, dan produknya.
Mikroorganisme yang dapat menimbulkan infeksi
makanan antara lain Shigella Sp, , Salmonella Sp, Vibrio Parahaemolyticus,
Escherichia Coli, Clostridium Perfringens, Virus
2.5 Definisi Shigella spesies
Shigella
spesies adalah kuman
patogen usus yang telah lama dikenal sebagai agen penyebab penyakit Disentri
Basiler. Sedangkan Disentri basiler atau
shigellosis adalah infeksi usus akut yang dapat sembuh sendiri yang disebabkan
oleh shigella. Disentri Basiler merupakan
penyakit yang epidemis diindonesia, disebabkan sanitasi lingkungan yang belum
memadai. (Josodiwondo, Suharno:165). Makanan
yang biasa terkontaminasi shigella sp
antara lain: tuna udang, kalkun, makaroni, salad dan susu. (Purnawijayanti,
Hiasinta A:77)
2.6 Morfologi dan Fisiologi
Shigella
spesies berbentuk batang gram-negatif ramping, ukuran
(0,5 - 0,7 um x 2 - 3 um), tidak berflagel. Shigella bersifat fakultatif
anaerob dan aerob, suhu pertumbuhan optimum 370C, Ph pertumbuhan
(6,4 - 7,8). (Jawetz,Melnick & Adelberg : 242)
2.7 Faktor-Faktor
Patogenitas
Shigellosis dapat menyebabkan 3 bentuk diare
yaitu: pertama, Disentri klasik dengan dengan tinja yang konsisten lembek yang
disertai darah mukus dan pus. Kedua, Watery diarrhea dan ketiga, Kombinasi dari
keduanya. Masa inkubasi adalah 2 -4 hari, atau bisa lebih lama sampai 1 minggu.
Oleh seorang yang sehat diperlukan 200 kuman untuk menyebabkan sakit. Kuman
masuk dan berada di usus halus, menuju terminal ileum dan kolon, melekat pada
permukaan mukosa dan menembus lapisan epitel kemudian berkembangbiak didalam lapisan mukosa. Terjadilah reaksi
peradangan yang hebat yang menyebabkan terlepasnya sel-sel dan timbulnya tukak
pada permukaan mukosa usus. Dan menyebar kebagian tubuh yang lain. Reaksi
peradangan yang hebat tersebut mungkin faktor penting yang membatasi penyakit
ini hanya pada usus.
2.8 Gejala
Klinik
1. Demam
2. Nyeri
Abdomen
3. Tenesmus
ani
4. Tinja cair
5. Sakit
kepala
6. Dehidrasi
7. lemah
2.9 Pencegahan dan Pengendalian
Penyebaran kuman shigella adalah dari manusia
kemanusia lain, dimana carrier merupakan reservoir kuman. Shigella ditularkan
melalui makanan yang terkontaminasi, tangan yang kotor, tinja dan lalat dari
orang ke orang (food, fingers, feces, and flies). usaha pengendalian harus
diarahkan pada pembersihan bakteri dengan cara : pengendalian sanitasi air,
makanan, pembuangan sampah, dan pengendalian lalat.
2.10
Pemeriksaan
Diagnostik
Bahan pemeriksaan yang paling baik untuk diagnosis
etiologic shigella adalah usab dubur atau diambil dari tukak pada mukosa usus
pada saat sedang dilakukannya pemeriksaan sigmoidoskopi. Bahan pemeriksaan
lainnya adalah tinja segar, dalam hal ini harus diperhatikan bahwa kuman
shigella hidupnya singkat sekali dan peka terhadap asam-asam yang ada didalam
tinja, sehingga jarak waktu sejak pengambilan bahan sampai penanaman bahan
dilaboratorium harus sesingkat mungkin. Identifikasi kuman dilakukan secara
biokimiawi dan serologic.
2.11
Pengobatan
Siprofloksasin,
ampisilin, tetrasiklin, dan trimetroprim-sulfametoksazol biasanya menghambat
shigella dan dapat menekan serangan klinik disentri akut.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Sanitasi makanan diperlukan untuk mencegah
terjadinya penyakit yang ditularkan lewat makanan oleh mikroorganisme hidup.
Salah satunya adalah Bakteri Shigella yang
menjadi penyebab penyakit Disentri Basiler.
DAFTAR PUSTAKA
Jawetz ,Melnick &
Adelberg . 1996 . Mikrobiologi Kedokteran
ed.20.
Jakarta:
EGC
Karsinah,dkk. 1994. Mikrobiologi Kedokteran ed.Revisi. Jakarta: Binarupa Aksara
Purnawijayanti,Hiasinta A.1999. Sanitasi, Higiene, dan keselamatan kerja dalam
pengolahan makanan. Jakara : Kanisius
No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar