PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Psoriasis merupakan penyakit kulit
yang penyebabnya adalah autoimun tetapi cara penurunannya belum dimengerti
sepenuhnya. Penyakit ini bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya
bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuma yang kasar, berlapis-lapis
dan transparan disertai fenomen tetesan lilin, auspitz dan kobner.
2.2 Etiologi
Penyebabnya
belum diketahui, faktor imun mungkin berperan karena penyakit yang parah dapat
timbul pada orang dengan gangguan kekebalan, namun pada
beberapa penderita dijumpai adanya faktor pencetus antara lain . Trauma, faktor genetik, faktor metabolik, infeksi virus streptococcus,0baat-obatan.
2.3 manifestasi
klinis
Lesi muncul sebagai bercak-bercak
merah menonjol pada kulit yang ditutupi oleh sisik berwarna perak.
Bercak-bercak ini tidak basah .
Kulit
penderita psoriasis awalnya tampak seperti bintik merah yang makin melebar dan
ditumbuhi sisik lebar putih berlapis-lapis. Penyakit psoriasis dapat disertai
dengan / tanpa rasa gatal. Kulit dapat membaik seperti kulit normal lainnya
setelah warna kemerahan, putih atau kehitaman bekas psoriasis.
|
![]() |
2.5 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksaan adalah untuk
memperlambat pergantian epidermis, meningkatkan resolusi lesi psoriatik dan
mengendalikan penyakit tersebut.
Ada tiga terapi standar, yaitu : Topikal,
Terapi Intralesi dan sitemik
Ø Topikal: obat-obatannya mencakup: Preparat ter, Antralin,
dan Kortikosteroid.
a. Preparat ter: Preparat yang dioleskan secara
topikal digunakan untuk melambatkan aktivitas epidermis yang berlebihan tanpa
mempengaruhi jaringan lainnya.biasa
digunakan dan mempunyai efek antiradang.
b. Antralin:adalah Preparat (Antra-derm, Dritho – Creme,
Lasan) yg berguna untuk mengatasi plak psoriatik yg tebal yg resisten terhadap
preparat kortikosteroid atau Preparat ter lainnya.
c. Kortikosteroid topikal dapat dioleskan untuk memberikan
efek antiinflamsi. Setelah obat ini dioleskan, bagian kulit yg diolesi ditutup
dengan kasa lembaran plastik oklusif untuk menggalakkan penetrasi obat dan
melunakkan plak yang bersisik.
d. Pengobatan dengan penyinaran: seperti diketahui sinar
ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis, sehingga sehingga dapat
digunakan untuk menghambat psoriasis.
Ø Terapi Intralesi: penyuntikan triamsinolon asetonida
intralesi (Aristocort, Kenalog-10, Trymex) dapat dilakukan langsung kedalam
bercak-bercak psoriasis yg terlihat nyata atau yg terisolasi dan resisten
terhadap bentuk terapi lainnya.
Ø Sistemik :obat-obatannya mencakup: Kortikosteroid,
Metotreksat, Hidroksiurea, dan retinoid oral.
a. Kortikosteroid: dapat mengontrol psoriasis,
b. Metatreksat : bekerja dengan cara menghambat sintensis DNA
dalam sel epidermis sehingga mengurangi waktu pergantian epidermis yg
psoriatik.
c. Hidroksiurea: menghambat replikasi sel dengan
mempengaruhi sistesis DNA.
d. Retinoid Oral (devirat sintetik vitamin A dan
Metabolismenya, asam vitamin A) akan memodulasi pertumbuhan serta diferensiasi
jaringan epitel.
3.1 Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan
1. Gangguan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi
2. Ganguan citra tubuh b.d perasaan mau terhadap penampakan
diri dan persepsi dari tentang ketidak berhasian.
3. Kurang pengatahuan tentang proses penyakit dan terapinya
Intervensi
dx.1. Gangguan integritas kulit b.d
lesi dan reaksi inflamasi
·
Kaji kerusakan jaringan
kulit yang terjadi pada klien
Rasional :
menjadi data dasar untuk memberikan informasi intervensi keperawatan yang akan
digunakan
·
Lakukan tindakan
peningkatan integritas jarigan
Rasional
: untuk menghindari cidera kulit pasien harus dinasehati agar tidak menggaruk
atau mencubit daerah yang sakit
·
Tingkatkan asupan
nutrisi
Rasional : Diet
TKTP diperlukan untuk meningkatkan asupan dari kebutuhan pertumbuhan jaringan.
·
Evaluasi kerusakan
jaringan dan perkembangan pertumbuhan jaringan
Rasional :
apabila masih belum mencapai dari kriteria evaluasi 5 x 24 jam, maka perlu
dikaji ulang faktor- faktor penghambat pertumbuhan dan perbaikan lesi.
dx. 2. Ganguan citra tubuh b.d
perasaan malu terhadap penampakan diri dan persepsi dari tentang ketidak berhasian.
Intervensi
·
Kaji perubahan dari
gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan.
Rasional: menentukan
bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemulihan intervensi.
·
Identifikasi arti dari
kehilangan atau difungsi pada pasien
Rasional :
beberapa pasien dapat menerima secara efektif kondisi perubahan fungsi yg
dialami, sedangkan yg lain mempunyai kesulitan dalam menerima perubahan fungsi
yg dialaminya.
·
Bina hubungan terapeutik
Rasional :
pasien harus memiliki keyakinan diri dan pemberdayaan dalam melaksanakan
program terapi, serta menggunakan strategi koping yg membantu mengatasi
perubahan pada konsep diri dan citra tubuh yg ditimbulkan oleh penyakit
Psoriasis.
·
Bantu pasien untuk
mendapatkan mekanisme koping yg efektif.
Rasional :
pengenalan terhadap strategi koping yg berhasil dijalankan oleh penderita
psoriasis lainnya dan saran-saran untuk megurangi atau menghadapi situasi penuh
stres dirumah, sekolah dan tempat kerja.
dx.3 Kurang pengatahuan tentang
proses penyakit dan terapinya b.d tidak adekuatnya sumber informasi,
ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan.
·
Kaji tingkat pengetahuan
pasien dan keluarga tentang Psorisis.
Rasional :pengetahuan
pasien dan orang tua yg baik dapat menurunkan resiko komplikasi
·
Meningkatkan cara hidup
sehat seperti intake makanan yg baik, keseimbangan, keseimbangan antara
aktivitas dan istirahat, monitor status kesehatan dan adanya infeksi.
Rasional :
meningkatkan sistem imun dan pertahanan terhadap infeksi
·
Jelaskan tentang kondisi
penyakit dan pentingnya penatalaksanaan psoriasis.
Rasional
:perawat harus menjelaskan dengan perasaan yg peka bahwa sampai saat ini belum terdapat pengobatan untuk penyembuhan
total penyakit psoriasis bahwa penanganan seumur hidup tidak diperlukan dan
bahwa keadaan ini dapt dihilangkan, serta dikendalikan.
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Psoriasis
merupakan penyakit kulit yang penyebabnya adalah autoimun tetapi cara
penurunannya belum dimengerti sepenuhnya. Penyakit ini bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuma yang
kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai fenomen tetesan lilin, auspitz
dan kobner. Dan penyebab penyakin ini belum
dpat diketahui secara pasti, namun , faktor imun mungkin berperan karena
penyakit yang parah dapat timbul pada orang dengan gangguan kekebalan,
4.2 Saran
·
Diharapkan agar mahasiswa
mampu menguasai pengetahuan tentang
Psoriasis
·
Meningkatkan cara hidup
sehat, seperti intake makanan yg baik, keseimbangan antara aktivitas dan
istirahat, serta memonitor status kesehatan
·
Menjaga Personal Hygiene
DAFTAR PUSTAKA
-
Brunner&Suddarth.
2002. Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8. Jakarta: EGC
-
Muttaqin, Arif dan Sari,
Kumala. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan
Sistem Integumen. Jakarta: Salemba Medika
-
Djuanda, Adhi. 2010. Ilmu Penyakit dan Kelamin. Edisi 6.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
-
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3.
Jakarta: Media Aesculapius

No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar