BAB
I
PENDAHULUAN
I.
LATAR
BELAKANG
Trauma thorax adalah semua ruda paksa
pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul.
(Lap. UPF bedah, 1994).
Hematotorax adalah tedapatnya darah
dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan.
Pneumotorax adalah terdapatnya udara
dalam rongga pleura, sehingga paru-paru dapat terjadi kolaps.
Trauma
thorax sering ditemukan sekitar 25% dari penderita multi-trauma ada component
trauma toraks.90% dari penderita dengan trauma thorax ini dapat diatasi dengan
tindakan yang sederhana oleh dokter di Rumah Sakit (atau paramedic di
lapangan), sehingga hanya 10% yang memerlukan operasi.
II.
TUJUAN
PENULISAN
II.I
Tujuan umum
Memahami gangguan
respiratorik tentang Obstruksi laring dan Obstruksi Nasal.
II.I Tujuan khusus
1.
Mengenali penyebab, tanda dan
gejala yang terjadi pada penyakit Obstruksi laring dan Obstruksi Nasal.
2. Mengobati
masalah penyakit infeksi jalan nafas di atas.
BAB II
PEMBAHASAN
I. KONSEP DASAR TRAUMA
THORAX
A. Pengertian
Trauma thorax adalah semua ruda paksa
pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul.
(Lap. UPF bedah, 1994).
Hematotorax adalah tedapatnya darah
dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan.
Pneumotorax adalah terdapatnya udara
dalam rongga pleura, sehingga paru-paru dapat terjadi kolaps.
B. Anatomi
1. Anatomi Rongga Thoraks
Kerangka dada yang terdiri dari tulang
dan tulang rawan, dibatasi oleh :
Ø Depan : Sternum dan tulang iga.
Ø Belakang : 12 ruas tulang belakang
(diskus intervertebralis).
Ø Samping : Iga-iga beserta otot-otot
intercostal.
Ø Bawah : Diafragma
Ø Atas : Dasar leher.
Isi :
Sebelah kanan dan kiri rongga toraks
terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.
Mediatinum : ruang di dalam rongga dada
antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluh-pembuluh darah
besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior,
saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C.,
1995).
C. Pemeriksaan Penunjang :
a. Photo toraks (pengembangan
paru-paru).
b. Laboratorium (Darah Lengkap dan
Astrup).
D. Penatalaksanaan
1. Bullow Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a. Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh
darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau
tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock.
b. Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang
terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga
"mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.
c. Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang
masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.
2. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya
slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain
kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu
menyeka tubuh pasien.
b. Mengurangi
rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi
analgetik oleh dokter. c. Dalam
perawatan yang harus diperhatikan :
-
Penetapan
slang.
Slang diatur se-nyaman
mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya
pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.
-
Pergantian
posisi badan.
Usahakan
agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau
memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh
sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.
d. Mendorong berkembangnya paru-paru.
Dengan WSD/Bullow drainage
diharapkan paru mengembang.
Latihan napas
dalam.
Latihan batuk yang
efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem.
Kontrol dengan pemeriksaan
fisik dan radiologi.
e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan
suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi
umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus
dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan
juga secara bersamaan keadaan pernapasan.
f. Suction harus berjalan efektif :
Perhatikan
setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam
selama 24 jam setelah operasi.
Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan,
keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.
Perlu sering
dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik,
coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke
posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang
tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang
tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.
g. Perawatan "slang" dan botol
WSD/ Bullow drainage.
1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari ,
diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.
2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan
cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.
3) Penggantian botol harus "tertutup" untuk
mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan
kocher.
4) Setiap penggantian botol/slang harus
memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril.
5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan
kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.
6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam
rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.
h. Dinyatakan berhasil, bila :
a. Paru sudah mengembang penuh pada
pemeriksaan fisik dan radiologi.
b. Darah cairan tidak keluar dari WSD /
Bullow drainage.
c. Tidak ada pus dari selang WSD.
3. Pemeriksaan
penunjang
a. X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan
lateral)
b. Diagnosis fisik :
Bila pneumotoraks < 30% atau
hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi. Bila pneumotoraks >
30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD,
dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.
Pada keadaan pneumothoraks yang residif
lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi.
Pada hematotoraks yang massif (terdapat
perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi.
4. Terapi :
a. Antibiotika..
b. Analgetika.
c. Expectorant.
E. Komplikasi
1. tension
penumototrax
2. penumotoraks
bilateral
3. emfiema
II.
KONSEP KEPERAWATAN
A.
Pengkajian :
Point yang penting dalam riwayat
keperawatan :
1. Umur : Sering terjadi usia 18 - 30
tahun.
2. Alergi terhadap obat, makanan
tertentu.
3. Pengobatan terakhir.
4. Pengalaman pembedahan.
5. Riwayat penyakit dahulu.
6. Riwayat penyakit sekarang.
7. Dan Keluhan.
B.
Pemeriksaan Fisik :
1. Sistem Pernapasan :
o Sesak napas
o Nyeri, batuk-batuk.
o Terdapat retraksi klavikula/dada.
o Pengambangan paru tidak simetris.
o Fremitus menurun dibandingkan dengan
sisi yang lain.
o Pada perkusi ditemukan Adanya suara
sonor/hipersonor/timpani, hematotraks (redup)
o Pada asukultasi suara nafas menurun,
bising napas yang berkurang/menghilang.
o Pekak dengan batas seperti garis
miring/tidak jelas.
o Dispnea dengan aktivitas ataupun
istirahat.
o Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.
2. Sistem Kardiovaskuler :
o Nyeri dada meningkat karena pernapasan
dan batuk.
o Takhikardia, lemah.
o Pucat, Hb turun /normal.
o Hipotensi.
3. Sistem Persyarafan :
o Tidak ada kelainan.
4. Sistem Perkemihan.
o Tidak ada kelainan.
5. Sistem Pencernaan :
o Tidak ada kelainan.
6. Sistem Muskuloskeletal - Integumen.
o Kemampuan sendi terbatas.
o Ada luka bekas tusukan benda tajam.
o Terdapat kelemahan.
o Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau
adanya kripitasi sub kutan.
7. Sistem Endokrine :
o Terjadi peningkatan metabolisme.
o Kelemahan.
8. Sistem Sosial / Interaksi.
o Tidak ada hambatan.
9. Spiritual :
o Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.
10. Pemeriksaan Diagnostik :
o Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan
pada area pleural.
o Pa Co2 kadang-kadang menurun.
o Pa O2 normal / menurun.
o Saturasi O2 menurun (biasanya).
o Hb mungkin menurun (kehilangan darah).
o Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,
Diagnosa
Keperawatan :
1.
Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak
maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2.
Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret
dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
3.
Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek
spasme otot sekunder.
4.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan
ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
5.
Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.
6.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow
drainage.
7.
Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder
terhadap trauma.
Intevensi
Keperawatan :
1. Ketidakefektifan
pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.
Tujuan
: Pola pernapasan efektive.
Kriteria
hasil :
Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang
efektive.
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada
paru.
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
Intervensi
:
a.
Berikan posisi yang nyaman, biasanya degan peninggian kepala tempat tidur.
Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak
mungkin.Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan
ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
b.
Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau
perubahan tanda-tanda vital. Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital
dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan
terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
c.
Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
Pengetahuan apa yang diharapkan dapat
mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap
rencana teraupetik.
d.Jelaskan pada klien
tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
e. Pertahankan perilaku
tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih
lambat dan dalam. Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat
dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
f.
Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 - 2 jam :
1) Periksa pengontrol penghisap untuk
jumlah hisapan yang benar.
Mempertahankan tekanan negatif intrapleural
sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.
2) Periksa batas cairan pada botol
penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.
Air penampung/botol bertindak sebagai
pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.
3) Observasi gelembung udara botol
penempung.
gelembung udara selama ekspirasi
menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung
biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak
adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang
buntu.
4) Posisikan sistem
drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau
menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi
dranase bela perlu.
Posisi tak tepat, terlipat atau
pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang
diinginkan.
5) Catat karakter/jumlah drainage selang
dada.
Berguna untuk mengevaluasi perbaikan
kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.
g.
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
1) Dengan dokter, radiologi dan
fisioterapi.
Pemberian antibiotika.
Pemberian analgetika.
Fisioterapi dada.
Konsul photo toraks.
Mengevaluasi perbaikan kondisi klien
atas pengembangan parunya.
2. Inefektif bersihan
jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk
sekunder akibat nyeri dan keletihan.
Tujuan : Jalan napas
lancar/normal
Kriteria hasil :
Menunjukkan batuk yang efektif.
Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal.
pernapasan.
Klien nyaman.
Intervensi :
a. Jelaskan klien
tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di
sal. pernapasan. Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
b. Ajarkan klien
tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. Batuk yang tidak terkontrol
adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
1) Napas dalam dan perlahan saat duduk
setegak mungkin.
Memungkinkan
ekspansi paru lebih luas.
2) Lakukan pernapasan diafragma.
Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas
dan meningkatkan ventilasi alveolar.
3) Tahan napas selama 3
- 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui
mulut.
4) Lakukan napas ke dua
, tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
c. Auskultasi paru sebelum dan sesudah
klien batuk.
Pengkajian ini membantu
mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
d. Ajarkan klien
tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang
adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak
kontraindikasi.
Sekresi kental sulit untuk diencerkan
dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
e. Dorong atau berikan perawatan mulut
yang baik setelah batuk.
Hiegene mulut yang baik
meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
f. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
:
o Dengan dokter, radiologi dan
fisioterapi.
o Pemberian expectoran.
o Pemberian antibiotika.
o Fisioterapi dada.
o Konsul photo toraks.
o Expextorant untuk memudahkan
mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan
parunya.
3. Perubahan kenyamanan
: Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot
sekunder.
Tujuan :
Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
Dapat mengindentifikasi aktivitas yang
meningkatkan/menurunkan nyeri.
Pasien tidak gelisah.
Intervensi :
a. Jelaskan dan bantu klien dengan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.
Pendekatan dengan menggunakan relaksasi
dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
2) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk
menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan
juga tingkatkan relaksasi masase.
Akan melancarkan peredaran darah,
sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi
nyerinya.
2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
Mengalihkan
perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
b. Berikan kesempatan
waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu
tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
Istirahat akan
merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.
c. Tingkatkan
pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri
akan berlangsung.
Pengetahuan yang akan dirasakan membantu
mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap
rencana teraupetik.
d. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian
analgetik.
Analgetik memblok
lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.
e. Observasi tingkat
nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik
untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan
perawatan selama 1 - 2 hari.
Pengkajian yang optimal akan memberikan
perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan
intervensi yang tepat.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Trauma thorax dapat timbul karena trauma
tajam, sedemikian rupa sehingga ada hubungan udara luar dan dengan rongga
pleura, sehingga paru menjadi kuncup, Seringkali hal ini terlihat sebagai luka
pada dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi/sucking chost woundl
Trauma thorax sering ditemukan, sekitar
25% dari penderita multi-trauma ada komponen ada komponen trauma thorax, 90%
dari penderita dengan trauma thorax ini dapat diatasi dengan tindakan yang
sederhana oleh dokter di Rumah sakit/paramedic di lapangan, sehingga hanya 10%
yang memerlukan operasi.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien
Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Jakarta : Pusdiknakes.
Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan
Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.
Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis.
Jakarta : EGC.
No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar