BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Reumatik Arthritis (RA)
Reumatik
arthritis (RA) adalah penyakit infalmasi sistemik kronik pada jaringan ikat
difus yang diperantarai oleh imunitas yang tidak diketahui penyebabnya dengan manifestasi pada sendi perifer dan
sering melibatkan organ ekstra-artikular seperti kulit, jantung, paru-paru, dan
mata. Reumatik arthritis dibagi dalam beberapa tipe yaitu
1. Tipe
I: mampu melakukan aktivitas hidup sehari-harisecara komplet.
2. Tipe
II: mampu melakukan aktivitas perawatan diri dan kegiatan pekerjaan tapi
terbatas pada kegiatan hobi
3. Tipe
III: mampu melakukan aktivitas perawatan diri sendiri tetapi terbatas pada
kegiatan pekerjaan dan .hobi.
4. Tipe
IV: kemampuan terbatas untuk melakukan aktivitas perawatan diri, pekerjaan dan
hobi
2.2
Etiologi
Penyebab
reummatik arthritis masih belum diketahui secara pasti,meskipun ertiologi
infeksi telah berspekulasi bahwa penyebabnya adalah organisme mikoplasma, virus
Epstein-barr, parvovirus dan rubella tetapi tidak ada organisme yang terbukti
bertanggung jawab. Selain itu, bisa dipengaruhi oleh reaksi autoimun, umur ,
jenis kelamin , dan lingkungan.
2.3
Manifestasi Klinis
a. gejala
konstitusional, : lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam.
b. poliartritis
simetris, : melibatkan sendi perifer (sendi ditangan)semua sendi diartrodial
dan tidak melibatkan sendi interfalangs.
c. kekakuan
dipagi hari, : bersifat generalisata terutama pada sendi dan menyerang selama
lebih dari satu jam.
d. arthritis
erosive, :peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi ditepi tulang dan
dapat dilihat diradiogram.
e. deformitas,
: kerusakan struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit.lokasi yang
sering dari deformitas ini adalah sendi siku
f. nodul
rheumatoid, : massa subkutan yang ditemukan pada orang dewasa penderita arthritis dan merupakan suatu
petunjuk penyakit yang aktif dan lebih berat.
g. manifestasi
ekstra-artikular, : dapat menyerang organ diluar sendi seperti jantung
(perikarditis), paru-paru(pleuritis), mata, pembulih darah dapat rusak.
2.4
Patofisiologi
Pada
arthritis rheumatoid, reakasi autoimun terutama terjadi pada jaringan sinovial.
Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Sendi-sendi tersebut
akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya
membentuk panus. Panus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi
tulang, akibatnya menghilangkan permukaan sendi yang akan mengganggu gerak
sendi. Otot akan turut terkena serabut otot akan mengalami perubahan generatif
dengan menghilangkan elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot. Selain itu
terjadi kerusakan dari berbagai jaringan termasuk tendon, ligamen, pembuluh
darah dan dapat mempengaruhi system lainnya seperti kulit, jantung, paru, GI,
ginjal, hematologi, dan okuler.
2.5
Penatalaksanaan
Tujuan
utama dari program pengobatan adalah untuk menghilangkan nyeri dan perdangan,
mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari klien, serta mencegah
dan memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi. Penatalaksanaan yang
sengaja dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan itu meliputi pendidikan,
istirahat, latihan fisik dan termoterapi, gizi, serta obat-obatan.
Pada
keadaan akut kadang dibutuhkan pemberian steroid atau imunosupresan. Sedangkan,
pada keadaan kronik sinovektomi mungkin
berguna bila tidak ada destruksi sendi yang luas. Bila terdapat destruksi sendi
atau deformitasdapat dianjurkan dan dilakukan tindakan atrodesis atau
atroplastik. Sebaiknya pada revalidasi disediakan bermacam alat bantu untuk
menunjang kehidupan sehari-hari di rumah maupun di tempat kerja.
Langkah
pertama dari program penatalaksanaan arthritis rheumatoid adalah
1. Memberikan
pendidikan kesehatan yang cukup tentang penyakit kepada klien, keluarganya, dan
siapa saja yang berhubungan dengan klien.
2. Istirahat
adalah penting karena arthritis rheumatoid biasanya disertai rasa lelah yang
hebat.
3. Penderita
arthritis rheumatoid tidak memerlukan diet khusus karena variasi pemberian diet
yang ada belum terbukti kebenarannya.
4. Obat-obat
dipakai untuk mengurangi nyeri, meredakan peradangan, dan untuk mencoba
mengubah perjalanan penyakit. Obat utama pada arthritis rheumatoid adalah
obat-obatan antiinflamasi nonsteroid (NSAID)
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1 Diagnosa
Keperawatan
1. nyeri berhubungan
dengan distensi jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi, distruksi
sendi.
2. kerusakan
mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, inteloren
aktivitas dan penurunan kekuatan otot.
3. gangguan citra
tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan melakukan tugas umum, peningkatan
penggunaan energy atau ketidakseimbangan mobilitas.
4. kurang perawatan
diri berhubungan dengan kerusakan muskuluskeletal, penunan kekuatan, daya
tahan, nyeri saat bergerak atau defresi.
3.2 Rencana
Keperawatan
diagnosa 1:. nyeri
berhubungan dengan distensi jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi,
distruksi sendi.
Mandiri
a. Kaji
kelahan nyeri,(skala nyeri,lokasi dan intensitas, respon rasa sakit).
Rasional:
membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan efektivitas program.
b. Berikan
kasur , bantal kecil dan tinggikan tempat tidur sesuai kebutuhan.
Rasional:
meninggikan TT menurunkan tekanan pada sendi.
c. Anjurkan
klien sering merubah
posisi.
Rasional:
mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi
d. Anjurkan
klien untuk mandi air hangat.
Rasional:
meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan
menghilangkan kekakuan pada pagi hari.
Kolaborasi
a. Bantu
klien dengan terapi fisik .
Rasional:
memberikan dukungan hangat/panas untuk sendi yang sakit.
b. Berikan
kompres dingin jika dibutuhkan
Rasional:
rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak pada periode akut.
Diagnose 2: kerusakan
mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, inteloren
aktivitas dan penurunan kekuatan otot.
Mandiri
a. Pertahankan
istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
Rasional:
istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut untuk mencegah kelelahan
dan mempertahankan kekuatan.
b. Ubah
posisi klien setiap dua jam dengan bantuan personel yang cukup .bantu tehnik
pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas.
Rasional
: menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi.
c. Berikan
lingkungan yang aman,misalnya menaikan kursi/kloset,penggunaan alat bantu.
Rasional:
menghindari cidera akibat kecelakaan.
Kolaborasi
a. Konsutasi
dengan ahli terapi fisik atau okupasi dan spesalis vakosional
Rasional:
berguna dalam memformulasikan program latihan
b. Berikan
obat sesuai indikasi
Diagnose 4: kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan
muskuluskeletal, penunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak atau
defresi.
Mandiri
a. Pertahankan
mobilitas, control terhadap nyeri dan program latihan.
Rasional:
mendukung kemandirian fisik atau emosional klien
b. Kaji
hambatan klien dalam partisipasi perawatan diri, indentifikasi rencana
mobilitas lingkungan.
Rasional:
menyiapkan klien untuk meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga
diri.
Kolaborasi
a. Mengatur
evaluasi kesehatan dirumah sebelum dan setelah pemulangan.
Rasional:
mengidentifikasi masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat ketidakmampuan
actual.
b. Membuat
jadwal konsul dengan lembaga lainnya.misalnya perawatan dirumah, ahli gizi.
Rasional:
klien mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk partisipasisituasi
dirumah.
Diagnosa
3 : Gangguan citra tubuh/perubahan penampilan peran berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan
energi atau ketidakseimbangan mobilitas
Mandiri :
1. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
mengenai proses penyakit dan harapan masa depan
Rasional : memberikan kesempatan unuk
mengidentifikasikan rasa takut/kesalahan konsep dan mampu menghadapi masalah
secara langsung.
2. Diskusikan kehilangan/perubahan pada
klien/orang terdekat
Rasional : mengidentifikasikan
bagaimana penyakit memengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain
akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/konseling lebih lanjut.
3. Diskusikan persepsi klien mengenai
bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan klien
Rasional: isyarat verbal/nonverbal
orang terdekat dapat memengaruhi bagaimana klien memandang dirinya sendiri.
4. Observasi perilaku klien terhadap
kemungkinan menarik diri, menyangkal atau terlalu memperhatikan prubahan tubuh
Rasional : dapat menunjukan emosional
atau metode koping maladaptif, membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan
psikologis.
5. Bantu klien untuk mengidentifikasi
perilaku positif yang dapat membantu mekanisme koping yang adaptif
Rasional : membantu klien untuk
mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri.
6. Ikut sertakan klien dalam merencanakan
perawatan dan membuat jadwal aktivitas
Rasional : meningkatkan perasaan
kompetensi/harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong partisipasi dalam
terapi.
7. Bantu kebutuhan perawatan yang
diperlukan klien
Rasional : mempertahankan penampilan
yang dapat meningkatkan citra diri.
8. Berikan respons/pujian positif bila
perlu
Rasional : memungkinkan klien untuk
merasa senang terhdap dirinya sendiri.
Kolaborasi :
1. Rujuk pada konseling psikiatri
Rasional : klien/orang terdekat
mungkin membuuhkan dukungan selama dengan proses jangka panjang/ketidakmampuan
2. Berikan obat-obatan sesuai petunjuk
Rasional : mungkin dibutuhkan saat
munculnya depresi hebat.
PENUTUP
Artritis rheumatoid
merupakan salah penyakit peradangan pada sendi yang tidak diketahui penyebabnya
utamanya. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita dibanding pria. Gejala yang
sering dialami yaitu kelelahan, malaise dan kekakuan di pagi hari, demam, penurunan
berat badan. Penyakit ini dapat menyebabkan peradangan dan proliferasi sinovium
(pannus) yang pada akhirnya terjadi
kerusakan dari berbagai jaringan, termasuk tulang rawan, tulang, tendon,
ligamen, dan pembuluh darah.
Dalam pengobatan
harus diberikan secara paripurna, karena penyakit sulit sembuh. Oleh karena
itu, pengobatan dapat dimulai secara dini. Klien harus diterangkan mengenai
penyakitnya dan diberikan dukungan psikologis. Nyeri dikurangi atau bahkan
dihilangkan, reaksi inflamasi ditekan, fungsi sendi dipertahankan, dan
deformitas dicegah dengan obat antiinflamasi nonsteroid, alat penopang
ortopedis, dan latihan terbimbing.
DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia A. 2006. PATOFISIOLOGI KONSEP KLINIS PROSES-PROSES
PENYAKIT edisi 6 volume 2. Jakarta : EGC.
Helmi, Zairin Noor. 2012. BUKU AJAR GANGGUAN MUSKULOSKELETAL. Jakarta
: Salemba Medika.
Lukman., Ningsih, Nurna.
2009. Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.
No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar