Makalah Keperawatan

Saturday, 18 January 2014

MAKALAH RHEUMATOID ARTRITIS



BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Definisi Reumatik Arthritis (RA)
Reumatik arthritis (RA) adalah penyakit infalmasi sistemik kronik pada jaringan ikat difus yang diperantarai oleh imunitas yang tidak diketahui penyebabnya  dengan manifestasi pada sendi perifer dan sering melibatkan organ ekstra-artikular seperti kulit, jantung, paru-paru, dan mata. Reumatik arthritis dibagi dalam beberapa tipe yaitu
1.    Tipe I: mampu melakukan aktivitas hidup sehari-harisecara komplet.
2.    Tipe II: mampu melakukan aktivitas perawatan diri dan kegiatan pekerjaan tapi terbatas pada kegiatan hobi
3.    Tipe III: mampu melakukan aktivitas perawatan diri sendiri tetapi terbatas pada kegiatan pekerjaan dan .hobi.
4.    Tipe IV: kemampuan terbatas untuk melakukan aktivitas perawatan diri, pekerjaan dan hobi

2.2 Etiologi
Penyebab reummatik arthritis masih belum diketahui secara pasti,meskipun ertiologi infeksi telah berspekulasi bahwa penyebabnya adalah organisme mikoplasma, virus Epstein-barr, parvovirus dan rubella tetapi tidak ada organisme yang terbukti bertanggung jawab. Selain itu, bisa dipengaruhi oleh reaksi autoimun, umur , jenis kelamin , dan lingkungan.

2.3 Manifestasi Klinis
a.    gejala konstitusional, : lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam.
b.    poliartritis simetris, : melibatkan sendi perifer (sendi ditangan)semua sendi diartrodial dan tidak melibatkan sendi interfalangs.
c.    kekakuan dipagi hari, : bersifat generalisata terutama pada sendi dan menyerang selama lebih dari satu jam.
d.    arthritis erosive, :peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi ditepi tulang dan dapat dilihat diradiogram.
e.    deformitas, : kerusakan struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit.lokasi yang sering dari deformitas ini adalah sendi siku
f.     nodul rheumatoid, : massa subkutan yang ditemukan pada orang dewasa  penderita arthritis dan merupakan suatu petunjuk penyakit yang aktif dan lebih berat.
g.    manifestasi ekstra-artikular, : dapat menyerang organ diluar sendi seperti jantung (perikarditis), paru-paru(pleuritis), mata, pembulih darah dapat rusak.
2.4 Patofisiologi
Pada arthritis rheumatoid, reakasi autoimun terutama terjadi pada jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Sendi-sendi tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk panus. Panus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang, akibatnya menghilangkan permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena serabut otot akan mengalami perubahan generatif dengan menghilangkan elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot. Selain itu terjadi kerusakan dari berbagai jaringan termasuk tendon, ligamen, pembuluh darah dan dapat mempengaruhi system lainnya seperti kulit, jantung, paru, GI, ginjal, hematologi, dan okuler.

2.5 Penatalaksanaan
Tujuan utama dari program pengobatan adalah untuk menghilangkan nyeri dan perdangan, mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari klien, serta mencegah dan memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi. Penatalaksanaan yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan itu meliputi pendidikan, istirahat, latihan fisik dan termoterapi, gizi, serta obat-obatan.
Pada keadaan akut kadang dibutuhkan pemberian steroid atau imunosupresan. Sedangkan, pada keadaan kronik  sinovektomi mungkin berguna bila tidak ada destruksi sendi yang luas. Bila terdapat destruksi sendi atau deformitasdapat dianjurkan dan dilakukan tindakan atrodesis atau atroplastik. Sebaiknya pada revalidasi disediakan bermacam alat bantu untuk menunjang kehidupan sehari-hari di rumah maupun di tempat kerja.
Langkah pertama dari program penatalaksanaan arthritis rheumatoid adalah
1.    Memberikan pendidikan kesehatan yang cukup tentang penyakit kepada klien, keluarganya, dan siapa saja yang berhubungan dengan klien.
2.    Istirahat adalah penting karena arthritis rheumatoid biasanya disertai rasa lelah yang hebat.
3.    Penderita arthritis rheumatoid tidak memerlukan diet khusus karena variasi pemberian diet yang ada belum terbukti kebenarannya.
4.    Obat-obat dipakai untuk mengurangi nyeri, meredakan peradangan, dan untuk mencoba mengubah perjalanan penyakit. Obat utama pada arthritis rheumatoid adalah obat-obatan antiinflamasi nonsteroid (NSAID)




BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Diagnosa Keperawatan
1. nyeri berhubungan dengan distensi jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi, distruksi sendi.
2. kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, inteloren aktivitas dan penurunan kekuatan otot.
3. gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan melakukan tugas umum, peningkatan penggunaan energy atau ketidakseimbangan mobilitas.
4. kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuluskeletal, penunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak atau defresi.

3.2 Rencana Keperawatan
diagnosa 1:. nyeri berhubungan dengan distensi jaringan akibat akumulasi cairan/proses inflamasi, distruksi sendi.
Mandiri
a.    Kaji kelahan nyeri,(skala nyeri,lokasi dan intensitas, respon rasa sakit).
Rasional: membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan efektivitas program.
b.    Berikan kasur , bantal kecil dan tinggikan tempat tidur sesuai kebutuhan.
Rasional: meninggikan TT menurunkan tekanan pada sendi.
c.    Anjurkan klien sering merubah posisi.
Rasional: mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi
d.    Anjurkan klien untuk mandi air hangat.
Rasional: meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan menghilangkan kekakuan pada pagi hari.
Kolaborasi
a.    Bantu klien dengan terapi fisik .
Rasional: memberikan dukungan hangat/panas untuk sendi yang sakit.
b.    Berikan kompres dingin jika dibutuhkan
Rasional: rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak pada periode akut.

Diagnose 2: kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, inteloren aktivitas dan penurunan kekuatan otot.
Mandiri
a.    Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
Rasional: istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
b.    Ubah posisi klien setiap dua jam dengan bantuan personel yang cukup .bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas.
Rasional : menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi.
c.    Berikan lingkungan yang aman,misalnya menaikan kursi/kloset,penggunaan alat bantu.
Rasional: menghindari cidera akibat kecelakaan.
Kolaborasi
a.    Konsutasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi dan spesalis vakosional
Rasional: berguna dalam memformulasikan program latihan
b.    Berikan obat sesuai indikasi

Diagnose 4:  kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuluskeletal, penunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat bergerak atau defresi.
Mandiri
a.    Pertahankan mobilitas, control terhadap nyeri dan program latihan.
Rasional: mendukung kemandirian fisik atau emosional klien
b.    Kaji hambatan klien dalam partisipasi perawatan diri, indentifikasi rencana mobilitas lingkungan.
Rasional: menyiapkan klien untuk meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga diri.
Kolaborasi
a.    Mengatur evaluasi kesehatan dirumah sebelum dan setelah pemulangan.
Rasional: mengidentifikasi masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat ketidakmampuan actual.
b.    Membuat jadwal konsul dengan lembaga lainnya.misalnya perawatan dirumah, ahli gizi.
Rasional: klien mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk partisipasisituasi dirumah.

Diagnosa 3 : Gangguan citra tubuh/perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi atau ketidakseimbangan mobilitas

Mandiri :

1.    Dorong klien mengungkapkan perasaannya mengenai proses penyakit dan harapan masa depan
Rasional : memberikan kesempatan unuk mengidentifikasikan rasa takut/kesalahan konsep dan mampu menghadapi masalah secara langsung.

2.    Diskusikan kehilangan/perubahan pada klien/orang terdekat
Rasional : mengidentifikasikan bagaimana penyakit memengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/konseling lebih lanjut.

3.    Diskusikan persepsi klien mengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan klien
Rasional: isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat memengaruhi bagaimana klien memandang dirinya sendiri.

4.    Observasi perilaku klien terhadap kemungkinan menarik diri, menyangkal atau terlalu memperhatikan prubahan tubuh
Rasional : dapat menunjukan emosional atau metode koping maladaptif, membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan psikologis.

5.    Bantu klien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu mekanisme koping yang adaptif
Rasional : membantu klien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri.
6.    Ikut sertakan klien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas
Rasional : meningkatkan perasaan kompetensi/harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong partisipasi dalam terapi.

7.    Bantu kebutuhan perawatan yang diperlukan klien
Rasional : mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri.

8.    Berikan respons/pujian positif bila perlu
Rasional : memungkinkan klien untuk merasa senang terhdap dirinya sendiri.

Kolaborasi :
1.    Rujuk pada konseling psikiatri
Rasional : klien/orang terdekat mungkin membuuhkan dukungan selama dengan proses jangka panjang/ketidakmampuan

2.    Berikan obat-obatan sesuai petunjuk
Rasional : mungkin dibutuhkan saat munculnya depresi hebat.
                                                        PENUTUP

 
Artritis rheumatoid merupakan salah penyakit peradangan pada sendi yang tidak diketahui penyebabnya utamanya. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita dibanding pria. Gejala yang sering dialami yaitu kelelahan, malaise dan kekakuan di pagi hari, demam, penurunan berat badan. Penyakit ini dapat menyebabkan peradangan dan proliferasi sinovium (pannus) yang pada akhirnya terjadi kerusakan dari berbagai jaringan, termasuk tulang rawan, tulang, tendon, ligamen, dan pembuluh darah.
Dalam pengobatan harus diberikan secara paripurna, karena penyakit sulit sembuh. Oleh karena itu, pengobatan dapat dimulai secara dini. Klien harus diterangkan mengenai penyakitnya dan diberikan dukungan psikologis. Nyeri dikurangi atau bahkan dihilangkan, reaksi inflamasi ditekan, fungsi sendi dipertahankan, dan deformitas dicegah dengan obat antiinflamasi nonsteroid, alat penopang ortopedis, dan latihan terbimbing. 


DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia A. 2006. PATOFISIOLOGI KONSEP KLINIS PROSES-PROSES PENYAKIT edisi 6 volume 2. Jakarta : EGC.
Helmi, Zairin Noor. 2012. BUKU AJAR GANGGUAN MUSKULOSKELETAL. Jakarta : Salemba Medika.
Lukman., Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.
 

No comments:

Post a Comment

terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar